a

Fanpage



Instagram



Kamis, 24 Desember 2015

Pengalaman Menjadi Guru SLB

SM3T Unnes
Oleh : Endang Nurliastuti
17 Desember 2015


       26 Agustus 2015. Sekalipun telah menyiapkan diri untuk ditempatkan di mana pun, nyatanya aku tetap terkejut ketika dibacakan penempatanku mengabdi dalam program SM-3T setahun ke depan. SLB Negeri Ngabang. Hey! SLB means... Sekolah Luar Biasa? Baiklah, aku bahkan belum pernah mengunjungi SLB manapun sebelumnya. Seperti apa murid-muridku nanti? Bagaimana caraku mengajar mereka? Dan seabrek pertanyaan lain yang lebih tepat disebut kekhawatiran ini sempat memenuhi kepalaku.
        Esoknya, hari pertamaku, anak-anak menyambut dengan sangat hangat. “Ibu guru baruuu...!!”, Seru mereka riang. Cindy di tangan kanan, Sufia menarik tangan kiri, menyusul Rini, Aliya, dan murid lain berdatangan berebut tempat di dekat kami (saya dan mbak Marina Utami). Perasaan damai yang tak bisa kujelaskan. Semua kekhawatiran lenyap begitu saja. Usai upacara pagi itu, – di sini, upacara dilakukan setiap hari setelah senam pagi – Ibu Ernesta selaku kepala sekolah mempersilahkan kami untuk memperkenalkan diri kepada seluruh warga sekolah, juga beberapa orang tua yang datang menemani murid selama proses belajar mengajar. “Adil 'ka talino, bacuramin 'ka saruga, basengat 'ka jubata...”, Sapaku masih sedikit terbata mengucap salam khas kalimantan ini, mengawali kalimat perkenalan.

... dan sampai hari ini, hampir empat bulan aku disini. Belajar, bermain, tertawa bersama mereka. Mengajar murid SLB ternyata tidaklah sesulit yang ku bayangkan di awal. Hanya mungkin diperlukan kesabaran ekstra menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Ada yang suka pilih-pilih guru, tidak mau belajar kalau tidak diajar guru tertentu, ada yang sulit sekali sekedar membujuknya masuk kelas, ada yang sulit berkonsentrasi, tidak bisa lebih dari 5 menit bertahan duduk di kursinya, ada yang suka sekali mengacau temannya, dan banyak lagi yang lain. Tidak boleh sampai terpancing emosi karena anak justru akan semakin menjadi. Selain itu dalam menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus ini juga dibutuhkan ketulusan sehingga bisa mengajar dengan sepenuh hati dan tidak ada rasa risih atau semacamnya yang dapat menciptakan jarak dengan mereka.
Khusus untuk murid tunarungu, aku mulai belajar bahasa isyarat, mulai dari abc... 123... dan percakapan umum sehari-hari. Antusias sekali saat pertama kucoba tanyakan “siapa namamu?” dengan hanya menggunakan gerak tangan dan mimik wajah, dan mereka menjawab dengan mengeja nama menggunakan jari. Sering kuhabiskan jam istirahat di kelas, mencoba berbaur dengan Ego, Riski, dan Dian berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Tak jarang mereka mengajariku. Murid Tunarungu-wicara, secara intelegensi sebenarnya memiliki potensi seperti anak normal, mereka hanya sulit berkomunikasi, sehingga sangat terbatas dalam memperoleh informasi.
 
       Tujuan pembelajaran di SLB berbeda dengan sekolah pada umumnya. Jika sekolah umum menuntut muridnya untuk lulus ujian nasional dengan standar nilai yang ditentukan, misalnya, maka fokus utama para guru SLB adalah menjadikan murid mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri, tidak tergantung lagi pada orang tua. Cara makan, minum, cuci tangan, mandi, gosok gigi, memakai baju, melipat baju, mengikat tali sepatu, pergi ke toilet sendiri, dan banyak hal lain yang mungkin sepele bagi kebanyakan kita, tapi perlu latihan khusus dan pembiasaan bagi mereka. Perkembangan sedikit saja pada diri murid membuat guru dan orang tua sangat senang. Seperti inilah keseharian kami di sekolah. Benar-benar pengalaman baru yang mengesankan menjadi guru SLB.
 
       Setiap hari bersama mereka, murid-muridku yang berbeda dengan anak pada umumnya, juga senantiasa menambah rasa syukurku kepada Allah karena telah dikaruniai fisik dan mental yang seha
 

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Mbak Endang kapan" mampir di Landak lagi yah, kangen😭