Oleh : Hesty Nurtika Riyandani
18 Desember 2015
Sebenarnya dapat giliran landak
menulis pada tanggal 15 Desember 2015, tapi karena keterbatasan sinyal
dan banyak kesibukan yang harus diselesaikan baru sempat mengunggah hari
ini...
Berawal dari susahnya minta izin orang tua untuk
mengikuti program ini sampai disidang dan diminta untuk tidak
melanjutkan tahapan seleksi yang tinggal selangkah lagi, dan sampai saat
ini tidak disangka sudah 3 Bulan 20 Hari (terhitung sampai tanggal 15
Desember) saya menjalani kehidupan di tanah borneo ini.
Terkadang masih
seperti mimpi dan masih tidak percaya tinggal disini.
Tanggal 26
Agustus 2015 Kami bersama dosen pendamping di sambut di Kantor Dinas
Pendidikan Kab.Landak. Serangkaian acara dari mulai penyambutan kami
angkatan V dan disambung dengan acara perpisahan dengan angkatan IV yang
sebelumnya sudah 1 tahun menjalani tugas mendidik. Sampai pada acara
pembacaan sekolah tempat yang akan menjadi saksi bisu perjalanan kami
selama satu tahun di pulau seberang ini. Saat yang lain mempunyai
pasangan masing-masing dan ternyata saya hanya sendiri di SD pelosok
(menurut informasi singkat yang didapat dari kakak tingkat angkatan IV)
perasaan takut, sedih, dan bingung campur aduk jadi satu karena selain
tidak ada pasangan, Kepala Sekolah yang akan menjemput dan membawa
ketempat tugas juga belum datang. Ketika Bapak Bachtiar (Kepala Sekolah
SD N 13 Morobehe II) datang untuk menjemput dan membawa saya pulang
kerumah, perasaan takut seketika berubah menjadi rasa syukur karena
mendapatkan Kepala Sekolah yang seagama, paling tidak bayangan akan
tinggal bersama Anjing dan Babi sudah hilang.
Sepanjang jalan
bapak banyak bercerita mengenai daerah yang akan kami tuju, dan ternyata
saya punya teman bertugas yang sudah datang 2 hari sebelum anak UUNES
datang namanya Kak Zahra. Lagi dan lagi saya bersyukur, karena bakal ada
teman untuk berbagi dan berjuang bersama dari UNSYIAH (Aceh). Masalah
tempat tinggal bisa dibilang kurang pas disebut daerah 3T karena selain
jalan sudah di aspal (dari kabupaten-kecamatan), listrik sudah ada,
sinyal tumpah-tumpah (meskipun Cuma *elkom***), dan Alhamdulillah
tinggal di kampung muslim sehingga tidak begitu susah untuk beradaptasi
dengan masyarakat di lingkungan tersebut.
Dibilang enak ya enak, dibilang susah ya susah...
Dapat keluarga yang super baik, punya umak dan apak yang begitu
perhatian, punya uwak (budhe) dan 2 adek (Lia dan dela) yang begitu
peduli dan sayang sama kami itu merupakan anugerah terindah yang kami
dapatkan disini. Dibalik semua itu tersimpan banyak cerita yang
terkadang membuat kami ingin menyerah saja dan pulang ke daerah asal.
Selain kondisi siswa yang sangat berbeda jauh dengan kondisi siswa di
jawa, kondisi jalan yang kami lewati untuk menuju rumah sekolah begitu
berat, sangat berat malah. 2 Bulan pertama (September dan oktober) kami
masih sanggup mendaki bukit dengan motor karena kondisi jalan yang
kering, tapi setelah bulan itu kami benar-benar merasakan apa yang
selama ini anak-anak rasakan. Bedanya kami menuju rumah sekolah yang ada
di pedalaman, sedangkan anak-anak menuju rumah sekolah (SMP & SMA)
yang ada di Kota Kecamatan. Mereka setiap hari harus jalan kaki 2 jam
untuk menuju rumah sekolah (pulang-pergi 4 jam), sehingga mereka
berangkat jam 5 pagi supaya tidak telat sampai ke rumah sekolah. Setiap
hari kami berpapasan sama anak-anak yang mau berangkat sekolah, mereka
selalu menyapa dan menyemangati satu sama lain supaya kuat jalan kaki
sampai rumah. Semangat mereka begitu tinggi untuk mendapatkan
pendidikan, terlihat dari raut wajah mereka yang selalu ceria meskipun
panas terik matahari tepat di atas kepala.
Desember menjadi
bulan yang begitu berat untuk kami,, karena guyuran hujan di bulan ini
membuat jalan yang kami lalui untuk menuju rumah sekolah menjadi bubur
dan sangat licin. Sekali dua kali kami memaksakan diri menggunakan motor
untuk menuju rumah sekolah karena kaki yang sudah sakit untuk berjalan 3
atau bahkan 4 hari berturut-turut. Tak jarang kami jungkir balik dan
tergelincir di naikan maupun turunan yang kami lewati, bahkan sering
kami terjebak ditengah-tengah lumpur (mau jalan susah, mau mundur juga
susah) dan do’anya hanya satu semoga ada yang baik hati menolong kami.
Sempat terlintas di pikiran untuk tinggal saja di rumah sekolah, tetapi
tidak di izinkan sama bapak Kepala Sekolah dan beberapa warga di sana.
Katanya terlalu berbahaya apabila perempuan tinggal di rumah sekolah
yang tidak terjamin keamanannya. “Semangat kalian luar biasa nak, ibu
bangga sama kalian.. jangan menyerah, jalan yang kalian lalui setiap
hari mengantarkan kesuksesan buat masa depan kalian”
0 komentar:
Posting Komentar