a

Fanpage



Instagram



Kamis, 24 Desember 2015

Suka dan Duka Satu Paket

SM3T Unnes

Oleh : Hesty Nurtika Riyandani
18 Desember 2015

        Sebenarnya dapat giliran landak menulis pada tanggal 15 Desember 2015, tapi karena keterbatasan sinyal dan banyak kesibukan yang harus diselesaikan baru sempat mengunggah hari ini...
        Berawal dari susahnya minta izin orang tua untuk mengikuti program ini sampai disidang dan diminta untuk tidak melanjutkan tahapan seleksi yang tinggal selangkah lagi, dan sampai saat ini tidak disangka sudah 3 Bulan 20 Hari (terhitung sampai tanggal 15 Desember) saya menjalani kehidupan di tanah borneo ini. 

       Terkadang masih seperti mimpi dan masih tidak percaya tinggal disini.
Tanggal 26 Agustus 2015 Kami bersama dosen pendamping di sambut di Kantor Dinas Pendidikan Kab.Landak. Serangkaian acara dari mulai penyambutan kami angkatan V dan disambung dengan acara perpisahan dengan angkatan IV yang sebelumnya sudah 1 tahun menjalani tugas mendidik. Sampai pada acara pembacaan sekolah tempat yang akan menjadi saksi bisu perjalanan kami selama satu tahun di pulau seberang ini. Saat yang lain mempunyai pasangan masing-masing dan ternyata saya hanya sendiri di SD pelosok (menurut informasi singkat yang didapat dari kakak tingkat angkatan IV) perasaan takut, sedih, dan bingung campur aduk jadi satu karena selain tidak ada pasangan, Kepala Sekolah yang akan menjemput dan membawa ketempat tugas juga belum datang. Ketika Bapak Bachtiar (Kepala Sekolah SD N 13 Morobehe II) datang untuk menjemput dan membawa saya pulang kerumah, perasaan takut seketika berubah menjadi rasa syukur karena mendapatkan Kepala Sekolah yang seagama, paling tidak bayangan akan tinggal bersama Anjing dan Babi sudah hilang.
        Sepanjang jalan bapak banyak bercerita mengenai daerah yang akan kami tuju, dan ternyata saya punya teman bertugas yang sudah datang 2 hari sebelum anak UUNES datang namanya Kak Zahra. Lagi dan lagi saya bersyukur, karena bakal ada teman untuk berbagi dan berjuang bersama dari UNSYIAH (Aceh). Masalah tempat tinggal bisa dibilang kurang pas disebut daerah 3T karena selain jalan sudah di aspal (dari kabupaten-kecamatan), listrik sudah ada, sinyal tumpah-tumpah (meskipun Cuma *elkom***), dan Alhamdulillah tinggal di kampung muslim sehingga tidak begitu susah untuk beradaptasi dengan masyarakat di lingkungan tersebut.
Dibilang enak ya enak, dibilang susah ya susah...
        Dapat keluarga yang super baik, punya umak dan apak yang begitu perhatian, punya uwak (budhe) dan 2 adek (Lia dan dela) yang begitu peduli dan sayang sama kami itu merupakan anugerah terindah yang kami dapatkan disini. Dibalik semua itu tersimpan banyak cerita yang terkadang membuat kami ingin menyerah saja dan pulang ke daerah asal. Selain kondisi siswa yang sangat berbeda jauh dengan kondisi siswa di jawa, kondisi jalan yang kami lewati untuk menuju rumah sekolah begitu berat, sangat berat malah. 2 Bulan pertama (September dan oktober) kami masih sanggup mendaki bukit dengan motor karena kondisi jalan yang kering, tapi setelah bulan itu kami benar-benar merasakan apa yang selama ini anak-anak rasakan. Bedanya kami menuju rumah sekolah yang ada di pedalaman, sedangkan anak-anak menuju rumah sekolah (SMP & SMA) yang ada di Kota Kecamatan. Mereka setiap hari harus jalan kaki 2 jam untuk menuju rumah sekolah (pulang-pergi 4 jam), sehingga mereka berangkat jam 5 pagi supaya tidak telat sampai ke rumah sekolah. Setiap hari kami berpapasan sama anak-anak yang mau berangkat sekolah, mereka selalu menyapa dan menyemangati satu sama lain supaya kuat jalan kaki sampai rumah. Semangat mereka begitu tinggi untuk mendapatkan pendidikan, terlihat dari raut wajah mereka yang selalu ceria meskipun panas terik matahari tepat di atas kepala.
        Desember menjadi bulan yang begitu berat untuk kami,, karena guyuran hujan di bulan ini membuat jalan yang kami lalui untuk menuju rumah sekolah menjadi bubur dan sangat licin. Sekali dua kali kami memaksakan diri menggunakan motor untuk menuju rumah sekolah karena kaki yang sudah sakit untuk berjalan 3 atau bahkan 4 hari berturut-turut. Tak jarang kami jungkir balik dan tergelincir di naikan maupun turunan yang kami lewati, bahkan sering kami terjebak ditengah-tengah lumpur (mau jalan susah, mau mundur juga susah) dan do’anya hanya satu semoga ada yang baik hati menolong kami. Sempat terlintas di pikiran untuk tinggal saja di rumah sekolah, tetapi tidak di izinkan sama bapak Kepala Sekolah dan beberapa warga di sana. Katanya terlalu berbahaya apabila perempuan tinggal di rumah sekolah yang tidak terjamin keamanannya. “Semangat kalian luar biasa nak, ibu bangga sama kalian.. jangan menyerah, jalan yang kalian lalui setiap hari mengantarkan kesuksesan buat masa depan kalian”

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: