Oleh : Endang Nurliastuti
17 Desember 2015
26 Agustus 2015. Sekalipun telah menyiapkan diri untuk ditempatkan di
mana pun, nyatanya aku tetap terkejut ketika dibacakan penempatanku
mengabdi dalam program SM-3T setahun ke depan. SLB Negeri Ngabang. Hey!
SLB means... Sekolah Luar Biasa? Baiklah, aku bahkan belum pernah
mengunjungi SLB manapun sebelumnya. Seperti apa murid-muridku nanti?
Bagaimana caraku mengajar mereka? Dan seabrek pertanyaan lain yang lebih
tepat disebut kekhawatiran ini sempat memenuhi kepalaku.
Esoknya, hari pertamaku, anak-anak menyambut dengan sangat hangat. “Ibu
guru baruuu...!!”, Seru mereka riang. Cindy di tangan kanan, Sufia
menarik tangan kiri, menyusul Rini, Aliya, dan murid lain berdatangan
berebut tempat di dekat kami (saya dan mbak Marina Utami).
Perasaan damai yang tak bisa kujelaskan. Semua kekhawatiran lenyap
begitu saja. Usai upacara pagi itu, – di sini, upacara dilakukan setiap
hari setelah senam pagi – Ibu Ernesta selaku kepala sekolah
mempersilahkan kami untuk memperkenalkan diri kepada seluruh warga
sekolah, juga beberapa orang tua yang datang menemani murid selama
proses belajar mengajar. “Adil 'ka talino, bacuramin 'ka saruga,
basengat 'ka jubata...”, Sapaku masih sedikit terbata mengucap salam
khas kalimantan ini, mengawali kalimat perkenalan.
... dan
sampai hari ini, hampir empat bulan aku disini. Belajar, bermain,
tertawa bersama mereka. Mengajar murid SLB ternyata tidaklah sesulit
yang ku bayangkan di awal. Hanya mungkin diperlukan kesabaran ekstra
menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Ada yang suka
pilih-pilih guru, tidak mau belajar kalau tidak diajar guru tertentu,
ada yang sulit sekali sekedar membujuknya masuk kelas, ada yang sulit
berkonsentrasi, tidak bisa lebih dari 5 menit bertahan duduk di
kursinya, ada yang suka sekali mengacau temannya, dan banyak lagi yang
lain. Tidak boleh sampai terpancing emosi karena anak justru akan
semakin menjadi. Selain itu dalam menghadapi anak-anak berkebutuhan
khusus ini juga dibutuhkan ketulusan sehingga bisa mengajar dengan
sepenuh hati dan tidak ada rasa risih atau semacamnya yang dapat
menciptakan jarak dengan mereka.
Khusus untuk murid
tunarungu, aku mulai belajar bahasa isyarat, mulai dari abc... 123...
dan percakapan umum sehari-hari. Antusias sekali saat pertama kucoba
tanyakan “siapa namamu?” dengan hanya menggunakan gerak tangan dan mimik
wajah, dan mereka menjawab dengan mengeja nama menggunakan jari. Sering
kuhabiskan jam istirahat di kelas, mencoba berbaur dengan Ego, Riski,
dan Dian berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Tak jarang mereka
mengajariku. Murid Tunarungu-wicara, secara intelegensi sebenarnya
memiliki potensi seperti anak normal, mereka hanya sulit berkomunikasi,
sehingga sangat terbatas dalam memperoleh informasi.
Tujuan pembelajaran di SLB berbeda dengan sekolah pada umumnya. Jika
sekolah umum menuntut muridnya untuk lulus ujian nasional dengan standar
nilai yang ditentukan, misalnya, maka fokus utama para guru SLB adalah
menjadikan murid mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri, tidak
tergantung lagi pada orang tua. Cara makan, minum, cuci tangan, mandi,
gosok gigi, memakai baju, melipat baju, mengikat tali sepatu, pergi ke
toilet sendiri, dan banyak hal lain yang mungkin sepele bagi kebanyakan
kita, tapi perlu latihan khusus dan pembiasaan bagi mereka. Perkembangan
sedikit saja pada diri murid membuat guru dan orang tua sangat senang.
Seperti inilah keseharian kami di sekolah. Benar-benar pengalaman baru
yang mengesankan menjadi guru SLB.
Setiap hari bersama mereka,
murid-muridku yang berbeda dengan anak pada umumnya, juga senantiasa
menambah rasa syukurku kepada Allah karena telah dikaruniai fisik dan
mental yang seha

1 komentar:
Mbak Endang kapan" mampir di Landak lagi yah, kangen😭
Posting Komentar