Oleh : Siti Chusniah
7 Desember 2015

Tentang hari ini.
Hari Senin.
Ada dua hal yang ingin kubagikan hari ini.
Tentang Landak Menulis.
Hari Senin.
Ada dua hal yang ingin kubagikan hari ini.
Tentang Landak Menulis.
Tentang UUB.
Ijinkan aku mengabarkan kepada kalian apa itu Landak Menulis.
Landak Menulis adalah salah satu program kami 50 pengajar SM3T
penempatan kabupaten Landak. Program ini baru kita sepakati seminggu
yang lalu dalam rapat evaluasi kami usai serangkaian kegiatan HUT PGRI
ke 70 di pusat pemerintahan Landak, yaitu di Ngabang.
Bertempat
di basecamp kami yang berada di belakang terminal Ngabang dan sekitar 9
meter dari bibir sungai Landak, koordinator kabupaten (korkab) kami,
Roni, mengusulkan program tersebut. "Begini teman2, menindaklanjuti
pesan pak Sokheh tentang himbauan untuk tidak hanya mengunggah foto2
saat main2 tapi membagikan foto seputar kegiatan pengabdian kita baik di
sekolah maupun partisipasi kita dalam kegiatan bermasyarakat, saya
punya usul untuk membuat program Landak Menulis. Jadi kita unggah foto
dengan cerpen singkat yang menginspirasi. Bagaimana? Terserah lah
baiknya nanti judul programnya apa, kita sepakati bersama", terangnya
kala itu.
Semua kawan sepakat. Setiap hari dibagi dua orang
untuk berkisah. Beberapa ketentuan pun disepakati seperti format tulisan
dan yang lainnya.
Nah, untuk mengawali dan membuka program
Landak Menulis ini, aku akan berkisah tentang hari ini. Tentang Senin.
Tentang UUB (Ulangan Umum Bersama).
Mereka menyebutnya dengan
ulangan. Jika saja mereka mendengar kubilang ujian bukan ulangan, protes
lah mereka. "Ibu tuh, bilangnya ujian jaa, kan ulangan bukan ujian",
protes Cia kala itu. Yak, mereka memang memiliki pemahaman yang berbeda
dengan dua kata itu. Ulangan dan Ujian. Dua kata yang menurutku sama.
Ulangan adalah ulangan semester. Ujian adalah ujian nasional. Itu yang
mereka tahu dan yakini. Aku akhirnya manut saja. " Iya, maksut ibu
ulangan bukan ujian", balasku pasrah. Haha.
Jangan bayangkan
atmosfer ujian disini seperti pada umumnya. Ada nomor peserta. Ada bel
mulai dan selesai mengerjakan. Murid yang sibuk belajar sebelum masuk
ruangan. Atmosfer ulangan semester yang kualami dulu ketika duduk
dibangku sekolah dan saat aku praktik mengajar di sebuah sekolah
menengah di kota semarang, tak kualami disini.
Aku jadi pengawas
kelas lima hari ini. Bahasa Indonesia jadwal di jam pertama. Berdoa
dulu sebelum ulangan di mulai. Kubagi lembar jawab dan lembar soal.
Mulailah mereka mengerjakan. Agak ribut. Mereka membaca soal dengan
suara yang sampai kudengar di telingaku. Ada yang sambil menyanyi
kudengar pula. Kuperingatkan untuk diam dan tenang.
Tapi, aku
salut, tak ada saling menyontek. Penyakit anak sekolah yang tak aneh
lagi. 45 soal mereka kerjakan dalam waktu kurang lebih satu jam,
selesai. Pilihan ganda. Tak ada soal uraian. Kulihat tak ada beban di
wajah mereka. Semua terlihat santai menghadapi ulangan semester. But,
they do the task.
Ketika das sein tak selaras dengan das solen.
Realitas tak sejalan dengan idealitas. A lot words are hards to speak
out. This is the world i face now. UUB rasa Temahar. Setidaknya aku ikut
urun memenuhi tenaga guru yang kurang dengan keberadaanku setahun
disini dan membuat senyum tersimpul dari mereka setiap kali aku masuk
kelas mereka.
"Bu, ngajar kelas berapa?"
"Bu ngajar kami ya bu?"
"Ah ibu ndak ngajar kami."
"Ibu ndak pernah lagi ngajar kami."
"Bu ngajar kami ya bu?"
"Ah ibu ndak ngajar kami."
"Ibu ndak pernah lagi ngajar kami."
Dua kalimat pertama sering aku dengar dari mereka saat aku berjalan
menuju kelas yang belum ada gurunya. Dua kalimat terakhir sering
kudengar dari anak-anak yang jarang kumasuki kelasnya karena memang
sudah ada guru lain yang masuk ke kelas mereka.