Oleh : Dewi Puspitasari
24 Januari 2016
Pagi itu, Rabu 21 Oktober 2015. Ya, hari rabu satu tahun yang lalu smile emoticonSuara tangis terdengar dari segala penjuru SDN 19 Toho Raba. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Satu hari sebelumnya, sekolah kami mendapat surat dari dinas kesehatan. Isinya memberitahukan bahwa pada hari Rabu, 21 Oktober 2015 siswa kelas I, II, dan III SDN 19 Toho Raba akan mendapat suntikan imunisasi. Hal itu tentu saja disambut baik oleh segenap jajaran dewan guru sekolah kami, namun tidak begiru dengan siswa kami. Banyak dari mereka yang pada pagi itu memilih tidak berangkat sekolah atau sembunyi di kebun belakang kelas. Alasannya apa? Ya, mereka takut disuntik.
Saat, petugas dinas kesehatan tiba disekolah mereka kompak berlari masuk kedalam kelas. Ada yang menangis dan ada pula yang bersembunyi di pelukan ibu guru. Kini, tibalah waktu pemberian imunisasi yang dimulai dari kelas I. Total siswa kelas I ada 13 siswa. Dari 13 siswa hanya beberapa yang tidak menangis. Saat mereka menangis kami hanya bisa menenangkan seraya berkata, “Usah munsek, bah...” itulah bahasa banyadu untuk “Jangan menangis”. Tetapi ucapan itu tidak serta merta menenangkan mereka, bahkan malah menjadikan tangis mereka semakin pecah.
Namun, ada pula siswa yang maju dengan sendirinya minta di suntuk dan tidak menangis. Dialah Chiko Jerikho siswa kelas II. Hanya satu satunya siswa yang tidak menangis.
Saat, petugas dinas kesehatan tiba disekolah mereka kompak berlari masuk kedalam kelas. Ada yang menangis dan ada pula yang bersembunyi di pelukan ibu guru. Kini, tibalah waktu pemberian imunisasi yang dimulai dari kelas I. Total siswa kelas I ada 13 siswa. Dari 13 siswa hanya beberapa yang tidak menangis. Saat mereka menangis kami hanya bisa menenangkan seraya berkata, “Usah munsek, bah...” itulah bahasa banyadu untuk “Jangan menangis”. Tetapi ucapan itu tidak serta merta menenangkan mereka, bahkan malah menjadikan tangis mereka semakin pecah.
Namun, ada pula siswa yang maju dengan sendirinya minta di suntuk dan tidak menangis. Dialah Chiko Jerikho siswa kelas II. Hanya satu satunya siswa yang tidak menangis.
Setelah selesai mendampingi siswa imunisasi, sayapun mulai menerawang jauh ke masa saya sekolah dahulu. Lalu terbersit sebuah pertanyaan, “Apakah memang dimana mana anak anak takut akan suntikan jarum?”
Itulah sepenggal cerita imunisasi dari sekolah tempat saya mengabdi yang hingga pada saat tulisan ini diposting sudah saya jalani selama lima bulan.

0 komentar:
Posting Komentar