Oleh : Fadlul Muna
7 Januari 2016
Akhirnya setelah 'nemu' sinyal, aku bisa menuliskan ini. Juga meskipun terlambat dari hari yang telah dijadwalkan. Sudah empat bulan aku dan Nia berada di Kampung Temahar. Kami tinggal
di antara orang Dayak. Jangan bayangkan orang dayak itu suka makan
manusia, ya. Mereka sama dengan ku, dengan kita semua.
Di kampung
Temahar hanya ada satu keluarga muslim, karena mayoritas penduduknya
adalah penganut kristen protestan dan katholik. Ya, Islam adalah
minoritas, namun perbedaan bukanlah sumber masalah. Akupun tengah
mencoba hal yang mungkin tak kulakukan di tempat asal, berbaur dengan
mereka. Meskipun berbeda suku dan berbeda agama, aku merasa mereka semua
adalah keluargaku di sini.
Sejak kedatanganku di Temahar,
banyak orang mengajakku untuk 'dolan' ke rumahnya. Entah sekedar singgah
atau berbincang sejenak. Ya, penduduk di sini ramah pada kami, apalagi
mereka mengetahui bahwa kami adalah guru. Awalnya kami malah dikira suku
Melayu karena dimanapun berada selalu mengenakan baju panjang dan
kerudung, hehe.
Kembali ke topik, entah baru berapa rumah
tetangga yang sudah pernah kudatangi. Kalau kuhitung-hitung sepertinya
aku baru berkunjung ke 15 rumah saja. Itupun ke rumah Komite Sekolah,
ketua RT, Kepala Dusun, rekan guru, dan tetangga terdekat. Sedangkan
yang lainnya belum ku datangi. Sebenarnya ada sekitar seratus kepala
keluarga yang berdiam di kampung. Bayangkan saja berapa lama waktu untuk
mengelilingi seluruh kampung. Akhirnya agenda muteri kampung tertunda.
Tak ada rotan, akarpun jadi. Jika belum ada waktu berkunjung ke setiap
rumah warga, kami masih bisa ngobrol dengan mereka. Salah satunya dengan
nongkrong di warung. Warung Bapak Helga lah yang jadi tempat nongkrong
andalan. Kami biasa ke sana tiap tak ada kesibukan di siang atau sore
hari. Malam hari pun kami ke sana karena mengajar ngaji dua putranya.
Aku dan Nia sering pergi bersama dengan murid-murid di sekolah.
Destinasi favorit kami tentu ke hutan. Kami sering ke sana sepulang
sekolah atau di hari libur. Murid-murid kami sungguh baik. Mereka
membantu mengambil buah sejampo (nangka) di atas pohon ~maklum, kulo
mboten saget menek wit~. Mereka juga mencarikan rebung dan mengupasnya
~wekdal menika nembe wegah amargi upase kathah~. Sudah banyak sayur dan
buah yang jadi incaran selama di hutan: daun singkong, buah singkong,
durian, cabai, bunga durian, pakis, dan kurat karang. Kemarin pun aku
dan Nia diajak mencari Tengkawang oleh tiga muridku, Cia, Eva, dan Okak.
Tengkawang digunakan untuk membuat minyak goreng. Banyak pelajaran yang
didapatkan meskipun dari murid kami sendiri.
Selain bersama
anak-anak, aku sering juga nge'ladang' dengan orang tua. Aku dan Nia
pernah ikut Mamak Eva ke ladang untuk memanen jagung. Kami ikut juga
dengan Mamak Helga ke hutan mencari rebung dan mengambil buah singkong.
Pernah juga saat aku ke hutan Ngeringin untuk mencari sayuran, aku
bertemu dengan Bapak Welly. Beliau sedang mencabuti padi yang berumur
dua minggu. Padi tersebut hendak dipindahkan ke sawah karena sebelumnya
ditanam di ladang. Aku pun ikut mencoba mencabutnya. Eh, tak disangka
setelah itu aku diajak singgah ke dionya (dio = gubuk di dekat sawah).
Dan memang kalau rejeki itu gak bakalan kemana. Aku diberi mentimun,
mangga, dan pisang. Hehe.
Bercerita soal rejeki tak terduga,
Alhamdulillah kami sering mendapatkannya. Jambu tajo yang manis, durian
yang harum baunya menggoda, mentimun sebagai teman nasi bisa menjadi
oleh-oleh untuk kubawa ke rumah. Orang tua muridku yang memberikannya
saat kami melewati ladang mereka. Bukan masalah rejeki ini yang menjadi
sorotan, namun kepedulian dan anggapan mereka bahwa kami sudah seperti
keluarga lah yang membuat hati tersentuh.
25 Desember, natalnya
umat kristiani. Tradisi saat natal yakni berkunjung ke semua rumah
sekampung, seperti hari raya Idul Fitri. Aku pun sempat galau, pilih
balik kampung atau jalan-jalan. Sebelum tanggal dua lima, aku masih di
Ngabang (pusat kotanya Landak). Aku dan Nia sedang menikmati liburan
semester gasal.
Rawi, Yowel, Suci, murid kelas empat dan beberapa murid lain dulunya sering bertanya padaku.
"Natal nanti kemana, Bu?"
"Nanti main ke rumah kami, ya, Bu. Ada banyak kue di rumah."
Wajah polos mereka saat mengatakan itu benar-benar membuat galau. Ada perasaan bersalah atau semacamnya dari dalam hati jika tak datang.
"Natal nanti kemana, Bu?"
"Nanti main ke rumah kami, ya, Bu. Ada banyak kue di rumah."
Wajah polos mereka saat mengatakan itu benar-benar membuat galau. Ada perasaan bersalah atau semacamnya dari dalam hati jika tak datang.
Alhasil, 24 Desember 2015 aku dengan Nia kembali ke rumah. Pikir kami,
besok adalah momen untuk mempererat tali persaudaraan. Keesokan harinya
usai kegiatan ibadah, kami dipandu oleh Unay, seorang tour guide cantik
yang juga tetangga kami, mengelilingi kampung Temahar. Akhirnya, ketemu
juga waktu yang tepat untuk berkunjung. Lelah memang, tapi cukup untuk
membayar sebuah kebahagiaan.
Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah Keyakinan bahwa kita dicintai.


0 komentar:
Posting Komentar