a

Fanpage



Instagram



Selasa, 19 Januari 2016

Mereka adalah Keluarga

SM3T Unnes
Oleh : Fadlul Muna
7 Januari 2016


       Akhirnya setelah 'nemu' sinyal, aku bisa menuliskan ini. Juga meskipun terlambat dari hari yang telah dijadwalkan. Sudah empat bulan aku dan Nia berada di Kampung Temahar. Kami tinggal di antara orang Dayak. Jangan bayangkan orang dayak itu suka makan manusia, ya. Mereka sama dengan ku, dengan kita semua.

       Di kampung Temahar hanya ada satu keluarga muslim, karena mayoritas penduduknya adalah penganut kristen protestan dan katholik. Ya, Islam adalah minoritas, namun perbedaan bukanlah sumber masalah. Akupun tengah mencoba hal yang mungkin tak kulakukan di tempat asal, berbaur dengan mereka. Meskipun berbeda suku dan berbeda agama, aku merasa mereka semua adalah keluargaku di sini.
Sejak kedatanganku di Temahar, banyak orang mengajakku untuk 'dolan' ke rumahnya. Entah sekedar singgah atau berbincang sejenak. Ya, penduduk di sini ramah pada kami, apalagi mereka mengetahui bahwa kami adalah guru. Awalnya kami malah dikira suku Melayu karena dimanapun berada selalu mengenakan baju panjang dan kerudung, hehe.

      Kembali ke topik, entah baru berapa rumah tetangga yang sudah pernah kudatangi. Kalau kuhitung-hitung sepertinya aku baru berkunjung ke 15 rumah saja. Itupun ke rumah Komite Sekolah, ketua RT, Kepala Dusun, rekan guru, dan tetangga terdekat. Sedangkan yang lainnya belum ku datangi. Sebenarnya ada sekitar seratus kepala keluarga yang berdiam di kampung. Bayangkan saja berapa lama waktu untuk mengelilingi seluruh kampung. Akhirnya agenda muteri kampung tertunda.
Tak ada rotan, akarpun jadi. Jika belum ada waktu berkunjung ke setiap rumah warga, kami masih bisa ngobrol dengan mereka. Salah satunya dengan nongkrong di warung. Warung Bapak Helga lah yang jadi tempat nongkrong andalan. Kami biasa ke sana tiap tak ada kesibukan di siang atau sore hari. Malam hari pun kami ke sana karena mengajar ngaji dua putranya.
Aku dan Nia sering pergi bersama dengan murid-murid di sekolah. Destinasi favorit kami tentu ke hutan. Kami sering ke sana sepulang sekolah atau di hari libur. Murid-murid kami sungguh baik. Mereka membantu mengambil buah sejampo (nangka) di atas pohon ~maklum, kulo mboten saget menek wit~. Mereka juga mencarikan rebung dan mengupasnya ~wekdal menika nembe wegah amargi upase kathah~. Sudah banyak sayur dan buah yang jadi incaran selama di hutan: daun singkong, buah singkong, durian, cabai, bunga durian, pakis, dan kurat karang. Kemarin pun aku dan Nia diajak mencari Tengkawang oleh tiga muridku, Cia, Eva, dan Okak. Tengkawang digunakan untuk membuat minyak goreng. Banyak pelajaran yang didapatkan meskipun dari murid kami sendiri.

      Selain bersama anak-anak, aku sering juga nge'ladang' dengan orang tua. Aku dan Nia pernah ikut Mamak Eva ke ladang untuk memanen jagung. Kami ikut juga dengan Mamak Helga ke hutan mencari rebung dan mengambil buah singkong.
Pernah juga saat aku ke hutan Ngeringin untuk mencari sayuran, aku bertemu dengan Bapak Welly. Beliau sedang mencabuti padi yang berumur dua minggu. Padi tersebut hendak dipindahkan ke sawah karena sebelumnya ditanam di ladang. Aku pun ikut mencoba mencabutnya. Eh, tak disangka setelah itu aku diajak singgah ke dionya (dio = gubuk di dekat sawah). Dan memang kalau rejeki itu gak bakalan kemana. Aku diberi mentimun, mangga, dan pisang. Hehe.

       Bercerita soal rejeki tak terduga, Alhamdulillah kami sering mendapatkannya. Jambu tajo yang manis, durian yang harum baunya menggoda, mentimun sebagai teman nasi bisa menjadi oleh-oleh untuk kubawa ke rumah. Orang tua muridku yang memberikannya saat kami melewati ladang mereka. Bukan masalah rejeki ini yang menjadi sorotan, namun kepedulian dan anggapan mereka bahwa kami sudah seperti keluarga lah yang membuat hati tersentuh.
25 Desember, natalnya umat kristiani. Tradisi saat natal yakni berkunjung ke semua rumah sekampung, seperti hari raya Idul Fitri. Aku pun sempat galau, pilih balik kampung atau jalan-jalan. Sebelum tanggal dua lima, aku masih di Ngabang (pusat kotanya Landak). Aku dan Nia sedang menikmati liburan semester gasal.
Rawi, Yowel, Suci, murid kelas empat dan beberapa murid lain dulunya sering bertanya padaku.
"Natal nanti kemana, Bu?"
"Nanti main ke rumah kami, ya, Bu. Ada banyak kue di rumah."
Wajah polos mereka saat mengatakan itu benar-benar membuat galau. Ada perasaan bersalah atau semacamnya dari dalam hati jika tak datang.
Alhasil, 24 Desember 2015 aku dengan Nia kembali ke rumah. Pikir kami, besok adalah momen untuk mempererat tali persaudaraan. Keesokan harinya usai kegiatan ibadah, kami dipandu oleh Unay, seorang tour guide cantik yang juga tetangga kami, mengelilingi kampung Temahar. Akhirnya, ketemu juga waktu yang tepat untuk berkunjung. Lelah memang, tapi cukup untuk membayar sebuah kebahagiaan.
Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah Keyakinan bahwa kita dicintai.

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: