Oleh : Hikma Nurul Izza
7 Januari 2016
Ah, harusnya kisah ini aku
ceritakan kepadamu, seseorang yang dulu pernah mendengarkan semua mimpi
dan rencanaku setelah selesai kuliah. Tentang belajar dan magang ke
negeri orang bersama teman-teman satu perjuangan. Ingatkah hei Milyarda Shadaika Mufydah Palka Angga Pwa Tapi, kali ini aku terjebak di salah satu koordinat belahan bumi yang
tak pernah aku bayangkan sebelumnya, Kalimantan. Disini, aku mengabdi
menjadi seorang guru melalui program SM3T. Program mengajar 1 tahun di
daerah terpencil, bonusnya bisa travelling. Jujur, tujuanku dulu hanya
mengejar bonusnya. (Hehe jangan ditiru). Tapi setelah dijalani, tujuan
itu berubah. Terimakasih mas Falid sudah menyarankan adikmu untuk ikut program ini.
Ah, harusnya kuceritakan padamu, cerita tentang pengabdianku di SMA N 1
Meranti, Kec. Meranti, Kab. Landak. Coba saja cari di google map, jika
kamu menemukannya, kamu termasuk orang yg beruntung! Penempatanku bisa
dikategorikan tidak terlalu terpencil. Signyal ada dan sudah terjangkau
listrik meskipun seringkali padam, jalanpun sudah aspal baru. Hehe.
Dulu, sebelum berangkat, ada sedikit sentilan, "kenapa harus mengabdi
nan jauh disana? di jawa pun masih banyak yg kekurangan guru". Ya,
memang di jawa masih kekurangan, tetapi disini jauuuuhhh lebih
kekurangan.
Ah, harusnya cerita ini kusampaikan padamu bahwa aku
bersyukur dulu bisa bersekolah dengan semua fasilitas serba ada. Disini
semua serba kekurangan, Pembelajaran yang masih konvensional hampir
setiap hari dilaksanakan karena keterbatasan sarana prasarana terutama
buku. Kurangnya tenaga pendidik menjadi sebuah alasan klasik di semua
jajaran pendidikan. Di tempat ini, guru seperti TOSERBA, Tokoh Serba
Bisa. Merangkap mengajar apa saja. Guru Kimia bisa berubah menjadi guru
Sosiologi. Guru Sejarah bisa saja menjadi guru Biologi. Salut untuk
jajaran guru yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan.
Ah, harusnya kuceritakan kisah ini kepadamu, kisah tentang semangat
anak-anak untuk pergi ke sekolah meskipun jalan yang ditempuh sekitar
1-2 jam berjalan kaki. Tentang anak-anak yang rela bekerja sebagai
pekerja ladang, dompeng emas, pekerja bangunan, kernet, dan apa saja
demi mendapatkan uang saku. Sebuah potret pendidikan yang sangat kontras
dengan yang pernah aku lihat sebelumnya.
Ah, harusnya kisah ini kuceritakan padamu. Kisah tentang aku yang menelan karma. Ingatkah kau kawan Dani Ratriana Nona Yunie? Waktu duduk di bangku SMA aku pernah dikeluarkan dari kelas saat pelajaran Fisika karena keasyikan ngobrol dengan Rama Nia Winda Danieasya Bakhtiar Hanif Yuanieta. Sekarang aku menjadi guru Fisika!! Merangkap guru Sosiologi. Hahaha. Dunia pun berputar.
Ah, harusnya kisah ini kuceritakan padamu. Tentang pulau sejuta sawit
ini. Tentang pulau Kalimantan dan segala isinya. Tentang keluarga Umak
dan masyarakat Meranti yang baik & ramah. Tentang bu kepala sekolah
& teman-teman guru yang menyenangkan. Tentang teman-teman SM3T yang
keren. Tentang semua itu.
Ah, harusnya kuceritakan kepadamu, ayah, apa kau mendengar?
Anak kebanggaanmu sekarang ada di Kalimantan.
Anak kebanggaanmu sekarang ada di Kalimantan.
Ah, sudahlah. Sudah terlanjur kuceritakan kisah ini padamu kawan. Tunggu ceritaku selanjutnya.
Mamak, terimakasih sudah mengizinkan anakmu merantau. Rinduku dari pulau sejuta sawit.
~Meranti, 7 Januari 2015~


0 komentar:
Posting Komentar