Oleh : Lukman Wicaksono
5 Januari 2016
Nama saya lukman wicaksono, S.Pd siswa SDN 32 antuai biasa
memanggil saya pak luk. Saya adalah salah satu dari ribuan guru sm3t
yang disebar dan ditempatkan di daerah 3T (terpencil,terluar dan
terdepan). Saya ditempatkan di Kabupaten Landak bersama 49 guru lainnya
yang biasa disebut Landakers. Di Landak saya ditempatkan di SDN 32
Antuai yang berada di sebuah dusun bernama ANTUAI. Antuai adalah dusun
trans lokal yang dipindahkan pemerintah yang berasal dari pedalaman
hutan kalimantan. Masyarakat dayak amat kental disini karena konon nama
antuai mempunyai arti hantu air karena mitosnya nenek moyang mereka
dulunya mempunyai ekor (mirip hantu). Walaupun demikian, masyarakat
antuai telah mengalami perubahan sosial dalam banyak hal.
Dusun
antuai sendiri terletak di bagian utara kabupaten landak dengan jarak
250 KM dari pusat kota ngabang ibu kota kabupaten landak dan masuk dalam
kecamatan air besar. Butuh waktu sekitar 5-6 jam perjalanan dari pusat
kota untuk mencapai dusun ini. Setelah perjalanan melewati jalan aspal
yang disebut jalan batas negara, saya harus melewati jalan di tengah
belantara hutan kalimantan. Jalan ini tak semulus jalan-jalan di pulau
jawa yang kebanyakan jalan yang telah beraspal. Di sini jalan aspal
adalah sebuah "mitos" karena setiap jalan disini masih berbentuk tanah
merah yang menjadi kubangan lumpur ketika musim hujan tiba. Jadi tak
jarang ketika musim hujan banyak motor yang tumbang di tengah jalan dan
di biarkan begitu saja oleh pemiliknya. Selain terpencil, dusun antuai
adalah salah satu dusun terdepan di indonesia letaknya yang hanya 1 jam
dari perbatasan malaysia.Tidak heran jika banyak barang terutama makanan
disini berasal dari negara tetangga kita (baca: malaysia)
Listrik dan sinyal adalah mitos
Sudah 4 bulan mengabdi disini berbagai kisah tragis,sedih,lucu hingga horor adalah makanan sehari-hari. Di penempatan, saya tinggal sendiri rumah dinas sekolah yang letaknya bersebelahan dengan sekolah. Tinggal sendiri tanpa listrik serta sinyal terkadang membuat stres di awal penempatan. Untuk mengecas hp saya harus pergi ke rumah tetangga yang mempunyai genset. Genset milik warga hanya dinyalakan ketika malam hari itupun jika warga tersebut mempunyai uang untuk membeli bensin. Ketika malam hari tiba suasana gelap gulita menjadi pemandangan yang biasa. Karena memang listrik PLN belum dapat masuk ke daerah ini. Selain listrik PLN, sinyal pun belum dapat masuk ke daerah ini. Saya harus menaiki bukit setinggi 100 mdpl dan melewati hutan untuk mendapatkan sinyal. Diawal penempatan saya pernah menangis di tempat ini, bukan karena terharu karena berhasil mendaki bukit ini melainkan karena rasa "ngenesnya" hidup di pedalaman.
Sudah 4 bulan mengabdi disini berbagai kisah tragis,sedih,lucu hingga horor adalah makanan sehari-hari. Di penempatan, saya tinggal sendiri rumah dinas sekolah yang letaknya bersebelahan dengan sekolah. Tinggal sendiri tanpa listrik serta sinyal terkadang membuat stres di awal penempatan. Untuk mengecas hp saya harus pergi ke rumah tetangga yang mempunyai genset. Genset milik warga hanya dinyalakan ketika malam hari itupun jika warga tersebut mempunyai uang untuk membeli bensin. Ketika malam hari tiba suasana gelap gulita menjadi pemandangan yang biasa. Karena memang listrik PLN belum dapat masuk ke daerah ini. Selain listrik PLN, sinyal pun belum dapat masuk ke daerah ini. Saya harus menaiki bukit setinggi 100 mdpl dan melewati hutan untuk mendapatkan sinyal. Diawal penempatan saya pernah menangis di tempat ini, bukan karena terharu karena berhasil mendaki bukit ini melainkan karena rasa "ngenesnya" hidup di pedalaman.
SDN 32 Antuai
Siswa SDN 32 Antuai sebanyak 76 siswa. Karena jauh dari pusat pemerintahan Sekolah ini masih minim fasilitas. Sekolah ini hanya memiliki 3 ruang kelas. Ketika kegiatan belajar mengajar siswa kelas satu dengan yang lainnya harus saling bertukar kelas. Kelas 1-3 masuk pagi pukul 07.30-10.00 kemudian bergantian dengan kelas 4-6 yang masuk dari pukul 10.00-12.30. Sekolah ini memiliki 5 guru yang terdiri dari 1 kepala sekolah, 2 guru PNS, 1 guru honor dan 1 guru sm3t yaitu saya. Walaupun demikian hanya saya dan guru honor yang kebanyakan aktif mengajar. Dan guru lainnya sering ijin karena ada "tugas". Mungkin karena faktor akseslah yang membuat guru-guru tersebut jarang masuk mengajar di kelas. Oh iya SDN 32 ANtuai tidak mempunyai kamar mandi jadi tidak heran ketika awal saya masuk disini saya melihat siswa berderet di belakang sekolah untuk buang air masal. Siswa a SDN 32 antuai berasal dari dua dua dususn yang berbeda yaitu antuai dan dusun dayak baru. Setiap pagi siswa dari dusun dayak baru harus berjalan belasan kilometer untuk pergi ke sekolah. Memakai sendal maupun tanpa alas kaki untuk berangkat ke sekolah dan menggunakan kantong plastik untuk menyimpan buku adalah pemandangan sehari-hari yang saya lihat dari mereka ketika berangkat sekolah.
Siswa SDN 32 Antuai sebanyak 76 siswa. Karena jauh dari pusat pemerintahan Sekolah ini masih minim fasilitas. Sekolah ini hanya memiliki 3 ruang kelas. Ketika kegiatan belajar mengajar siswa kelas satu dengan yang lainnya harus saling bertukar kelas. Kelas 1-3 masuk pagi pukul 07.30-10.00 kemudian bergantian dengan kelas 4-6 yang masuk dari pukul 10.00-12.30. Sekolah ini memiliki 5 guru yang terdiri dari 1 kepala sekolah, 2 guru PNS, 1 guru honor dan 1 guru sm3t yaitu saya. Walaupun demikian hanya saya dan guru honor yang kebanyakan aktif mengajar. Dan guru lainnya sering ijin karena ada "tugas". Mungkin karena faktor akseslah yang membuat guru-guru tersebut jarang masuk mengajar di kelas. Oh iya SDN 32 ANtuai tidak mempunyai kamar mandi jadi tidak heran ketika awal saya masuk disini saya melihat siswa berderet di belakang sekolah untuk buang air masal. Siswa a SDN 32 antuai berasal dari dua dua dususn yang berbeda yaitu antuai dan dusun dayak baru. Setiap pagi siswa dari dusun dayak baru harus berjalan belasan kilometer untuk pergi ke sekolah. Memakai sendal maupun tanpa alas kaki untuk berangkat ke sekolah dan menggunakan kantong plastik untuk menyimpan buku adalah pemandangan sehari-hari yang saya lihat dari mereka ketika berangkat sekolah.
Walaupun demikian siswa disini berbeda jauh dwngan siswa di
kota khususnya di pulau jawa. Siswa disini sangat sopan dalan
berperilaku. Walaupun hidup mereka sederhana, mereka diajarkan untuk
saling berbagi. Mereka sering mengantarkan beras, sayuran serta kayu
bakar kepada gurunya termasuk saya. Sambil tersenyum malu mereka
mengetuk pintu dan memberikan beras serta sayuran kemudian berlari
pulang sebelum saya mengucapkan terima kasih.
Walaupun
disini tugas saya sebagai guru namun saya yang banyak belajar dari
mereka. Belajar tentang cara mereka mensyukuri hidup dalam
kesederhanaan. Belajar tentang cara mereka menghormati gurunya. Belajar
cara mereka menyambut orang baru tanpa rasa kecurigaan serta membedakan
suku maupun agama yang mereka anut. Belajar tentang cara mereka berbagi
dalam kekurangan.

0 komentar:
Posting Komentar