Oleh : Marina Utami
11 Desember 2015

Jika rekan-rekan SM3TV Landak ketika pada saat pertama kali tiba di
Kota Ngabang (Pusat Kota di Kabupaten Landak) masing-masing belum tahu
akan di tugaskan di sekolah mana, berbeda dengan saya...saya ketika
masih menjalani pra-kondisi di Hotel Kusma Bandungan-Semarang diminta
secara khusus oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten
Landak yang pada saat itu datang ke semarang di wakili oleh Pak Yongki
untuk mengajar di satu-satunya sekolah luar biasa di Kabupaten Landak,
mengingat peserta yang lolos seleksi SM3T pada saat itu tidak ada yang
dari program studi pendidikan khusus/pendidikan luar biasa, kemudian
menunjuk saya dengan pertimbangan mungkin karena saya berasal dari
program studi Bimbingan dan Konseling, yang selain konsentrasi studinya
pada bidang pendalaman psikologi, konseling dan pendidikan juga saya
sempat mengambil salah satu mata kuliah pilihan tentang Layanan
Konseling Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Mengajar anak
berkebutuhan khusus dengan latar belakang ketunaan yang berbeda-beda
bukan perkara mudah. Perlu ada ketrampilan dan pengetahuan khusus untuk
menangani mereka, disamping pentingnya kerja sama dengan orang tua sang
anak. Namun, satu hal yang harus dimiliki Guru untuk mampu membantu
tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah hati yang
mengasihi, hal ini saya jadikan modal paling utama untuk menjadi Guru
mereka. Selain itu juga perlu adanya kesabaran dan ketelatenan untuk
menghadapi mereka setiap harinya.
Ini pengalaman pertama saya
mengajar di sekolah luar biasa, tidak saya pungkiri juga ketika
awal-awal saya mengajar, saya sempat stress, sedih, bingung karena
kebetulan salah satu anak yang tanggung jawabnya diberikan kepada saya
oleh kepala sekolah adalah penderita autis, laki-laki, kelas 9 dan
berumur 15 tahun. Tidak mudah bagi penderita autis untuk beradaptasi
dengan orang yang baru, dengan agresifititas dia yang tinggi, yang pada
saat itu bagi saya sangat sulit untuk mengendalikannya...tidak hanya
berteriak, ia juga terkadang mengamuk, memukul saya, berlari kencang,
menendang-nendang, dll. Butuh waktu kurang lebih satu bulan bagi saya
untuk membuat dia tenang duduk di bangkunya dan kemudian mau belajar.
Disinilah kemudian saya belajar untuk tidak mudah menyerah, ada harga
untuk setiap kesabaran yang kita jalani.
Siswa kedua yang saya tangani adalah seorang siswa sekolah dasar yang
masih duduk di bangku kelas 1 dengan latar belakang ketunaannya adalah
Grahita sedang, anak dengan IQ dibawah rata-rata anak normal pada
umumnya sehingga menyebabkan fungsi kecerdasan dan intelektualnya
terganggu yang menyebabkan permasalahan-permasalahan lainnya muncul pada
masa perkembangannya. Tidak hanya bertanggung jawab pada belajar
akademiknya, saya juga harus telaten mengajari ia merawat dirinya
sendiri secara mandiri yang dalam bahasa kami adalah belajar ‘’bina
diri’’. Mulai dari bagaimana dia makan, buang air besar, buang air kecil
sampai memakai baju dan mengancingkannya sendiri, hal yang bagi
anak-anak umum mungkin sudah biasa diajari sekali saja bisa tetapi bagi
anak-anak seperti ini butuh beberapa kali untuk mengajari dan
membiasakannya.
Demikianlah sekilas cerita tentang peran ganda
saya selama mengajar di SLB, selain sebagai Guru, sebagai orang tua,
sebagai teman, bahkan kadang-kadang harus berperan sebagai tenaga
perawat. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan kemampuan yang dimiliki
oleh siswa sehingga memerlukan pelayanan secara khusus, namun yang lebih
sulit adalah memberikan bimbingan kepada orang tua atau keluarga agar
mereka menyadari bahwa putra-putrinya memerlukan penanganan secara
khusus baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat.
Itulah
sekilas potret pengalaman saya mengajar di SLB, berbekal keyakinan dan
keikhlasan, juga keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru,
pengetahuan baru. Seperti kata tokoh favorit saya Emha Ainun Nadjib
bahwa Tidak ada suatu keadaan yang tidak memberimu ilmu dan kesadaran
yang baru :)
0 komentar:
Posting Komentar