a

Fanpage



Instagram



Kamis, 24 Desember 2015

Pengalaman Luar Biasa Menjadi Guru Di Sekolah Luar Biasa (SLB)

SM3T Unnes
Oleh : Marina Utami
11 Desember 2015



        Jika rekan-rekan SM3TV Landak ketika pada saat pertama kali tiba di Kota Ngabang (Pusat Kota di Kabupaten Landak) masing-masing belum tahu akan di tugaskan di sekolah mana, berbeda dengan saya...saya ketika masih menjalani pra-kondisi di Hotel Kusma Bandungan-Semarang diminta secara khusus oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Landak yang pada saat itu datang ke semarang di wakili oleh Pak Yongki untuk mengajar di satu-satunya sekolah luar biasa di Kabupaten Landak, mengingat peserta yang lolos seleksi SM3T pada saat itu tidak ada yang dari program studi pendidikan khusus/pendidikan luar biasa, kemudian menunjuk saya dengan pertimbangan mungkin karena saya berasal dari program studi Bimbingan dan Konseling, yang selain konsentrasi studinya pada bidang pendalaman psikologi, konseling dan pendidikan juga saya sempat mengambil salah satu mata kuliah pilihan tentang Layanan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
       Mengajar anak berkebutuhan khusus dengan latar belakang ketunaan yang berbeda-beda bukan perkara mudah. Perlu ada ketrampilan dan pengetahuan khusus untuk menangani mereka, disamping pentingnya kerja sama dengan orang tua sang anak. Namun, satu hal yang harus dimiliki Guru untuk mampu membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus adalah hati yang mengasihi, hal ini saya jadikan modal paling utama untuk menjadi Guru mereka. Selain itu juga perlu adanya kesabaran dan ketelatenan untuk menghadapi mereka setiap harinya.
       Ini pengalaman pertama saya mengajar di sekolah luar biasa, tidak saya pungkiri juga ketika awal-awal saya mengajar, saya sempat stress, sedih, bingung karena kebetulan salah satu anak yang tanggung jawabnya diberikan kepada saya oleh kepala sekolah adalah penderita autis, laki-laki, kelas 9 dan berumur 15 tahun. Tidak mudah bagi penderita autis untuk beradaptasi dengan orang yang baru, dengan agresifititas dia yang tinggi, yang pada saat itu bagi saya sangat sulit untuk mengendalikannya...tidak hanya berteriak, ia juga terkadang mengamuk, memukul saya, berlari kencang, menendang-nendang, dll. Butuh waktu kurang lebih satu bulan bagi saya untuk membuat dia tenang duduk di bangkunya dan kemudian mau belajar. Disinilah kemudian saya belajar untuk tidak mudah menyerah, ada harga untuk setiap kesabaran yang kita jalani.

       Siswa kedua yang saya tangani adalah seorang siswa sekolah dasar yang masih duduk di bangku kelas 1 dengan latar belakang ketunaannya adalah Grahita sedang, anak dengan IQ dibawah rata-rata anak normal pada umumnya sehingga menyebabkan fungsi kecerdasan dan intelektualnya terganggu yang menyebabkan permasalahan-permasalahan lainnya muncul pada masa perkembangannya. Tidak hanya bertanggung jawab pada belajar akademiknya, saya juga harus telaten mengajari ia merawat dirinya sendiri secara mandiri yang dalam bahasa kami adalah belajar ‘’bina diri’’. Mulai dari bagaimana dia makan, buang air besar, buang air kecil sampai memakai baju dan mengancingkannya sendiri, hal yang bagi anak-anak umum mungkin sudah biasa diajari sekali saja bisa tetapi bagi anak-anak seperti ini butuh beberapa kali untuk mengajari dan membiasakannya.
       Demikianlah sekilas cerita tentang peran ganda saya selama mengajar di SLB, selain sebagai Guru, sebagai orang tua, sebagai teman, bahkan kadang-kadang harus berperan sebagai tenaga perawat. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh siswa sehingga memerlukan pelayanan secara khusus, namun yang lebih sulit adalah memberikan bimbingan kepada orang tua atau keluarga agar mereka menyadari bahwa putra-putrinya memerlukan penanganan secara khusus baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat.
       Itulah sekilas potret pengalaman saya mengajar di SLB, berbekal keyakinan dan keikhlasan, juga keinginan untuk mendapatkan pengalaman baru, pengetahuan baru. Seperti kata tokoh favorit saya Emha Ainun Nadjib bahwa Tidak ada suatu keadaan yang tidak memberimu ilmu dan kesadaran yang baru :)

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: