Oleh : Fadlul Muna
10 Desember 2015

Hari ini
adalah hari pertama bulan Desember. Nah, hari ini aku mengajar
Matematika di kelas 4. Anak-anak suka sekali dengan matematika. Padahal
dulu ketika aku masih SD, MTK adalah mapel yang tak kusuka. Hehe. Tetapi
siswa kelas 4 yang kuajar sangat menunggu-nunggu pelajaran ini. "Nanti
matematika, ya, Bu," ucap Martini setiap aku akan masuk kelasnya.
Usai jam istirahat, aku masuk kelas 4. Biasanya pada jam kedua ini,
anak-anak hampir tak fokus belajar. Mereka mungkin lelah setelah main
bersama kawannya. Kepalakupun kadang terasa 'kemut-kemut' menghadapi
mereka yang kadang ribut di kelas, tapi saat kutanya perihal materi
ternyata belum faham. Mau kulanjutkan materi, materi awalnya saja belum
faham, bagaimana bisa lanjut begitu saja. Mau kuakhiri pelajarannya,
tapi baru sejam aku masuk. Akhirnya hal ini jadi dilema dalam hati yang
berujung 'sirah ngelu'.
Maka hari ini ingin kubuat beda. Apalagi
1 bab materi matematika yang baru mereka pelajari belum selesai. Minggu
depan mungkin sudah UAS. Tak banyak waktu tersisa untuk belajar.
Kulihat catatan mereka. Sudah sampai operasi hitung campuran rupanya.
Itu lho perhitungan yang ada kali bagi tambah kurang. Kalau guru di
sekolahku dulu menyebutnya pipolondo, ping poro lan sudo. Ping adalah
perkalian, poro adalah pembagian, lan artinya pertambahan, dan sudo
artinya pengurangan.
Sudah beberapa kali juga mereka mendapat
tugas dan PR tentang pipolondo ini. Namun kebanyakan masih belum faham
pembagian. Nia dulu pernah bercerita kalau anak-anak masih kebingungan
soal pembagian. Padahal sudah ia buatkan soal cerita agar lebih faham.
Aku berencana mengulang materi pembagian. Kalau tak diulang, nanti bisa
berpengaruh saat di kelas 5 dan 6 ataupun saat SMP. Pipolondo ini
sering digunakan pada MTK atau IPA bagian fisika saat SMP. Banyak kawan
dan kakak angkatan SM-3T bercerita bahwa ketika mengajar IPA SMP, mereka
harus mengulang materi MTK dasar lagi. Jadi prinsipku, materi dasar
harus mereka kuasai.
Aku mengulang perkalian dulu agar mereka tak
lupa. Kupandu mereka untuk bernyanyi satu kali satu sama dengan satu,
seperti lagu satu satu aku sayang ibu. Lagu perkalian ini pun ada
ceritanya. Saat aku mengajar FPB dan KPK di kelas 6, masih banyak siswa
yang belum hafal perkalian. Alhamdulillah mereka sudah faham perkalian
kok, mereka bisa menghitung perkalian dengan cara menggambar lidi.
Oh ya, anak murid di sini suka sekali bernyanyi. Lagu apa saja mereka
nyanyikan. Akupun terfikir untuk menggubah lirik sebuah lagu menjadi
perkalian. Konon, katanya lagu bisa membuat siswa menjadi cepat hafal.
Nah, lagu satu satu aku sayang ibu itulah yang kurasa cocok. Jadilah
lagu perkalian ini kupraktikkan perdana di kelas 6. Dan sekarang
kuterapkan ke semua kelas, kelas 4, 5, dan 6. Efeknya, siswa kelas 4
lumayan bisa hafal, meskipun belum semuanya.
Kembali ke operasi
hitung 'poro', akupun sebenarnya bingung bagaimana cara membuat
anak-anak faham pembagian. Kuingat-ingat bagaimana guru SD bagaimana
mengajariku dulu. Sayang, akupun tak ingat. Hehe.
Aku membuat
soal cerita sederhana sebagai pemanasan. Kukisahkan bahwa diriku
mempunyai 6 buah rambutan. Lalu kugambar enam buah rambutan di papan
tulis. Ada 3 murid main ke rumahku. Mereka bernama Ani, Budi, dan Ina.
Kugambar lagi tokoh Ani, Budi, dan Ina di papan tulis. Aku mau memberi
rambutan pada mereka. "Berapakah rambutan yang masing-masing diterima?"
tanyaku pada anak-anak yang mendengar cerita dengan antusias.
Ada siswa yang spontan menjawab 'dua'. Memang benar jawaban itu. Beberapa anak lain masih mikir-mikir. Akhirnya kujelaskan bagaimana cara menghitungnya.
Pelan-pelan kuceritakan si Ani mendapat 1 rambutan dulu, barulah Budi dan Ina juga kebagian 1 rambutan. Nah, kan masih ada sisa rambutan, bagilah lagi pada tiga anak sampai semuanya memperoleh rambutan sama banyak. Tak lupa tiap anak yang mendapat rambutan maka rambutannya wajib digambar di bawah orang. Lalu rambutan punyaku yang sudah dibagi-bagikan harus disilang atau dicoret sebagai tanda sudah habis. Setelah jawabannya ketemu barulah kutuliskan kesimpulannya dalam sebuah kotak, 6 : 3 = 2.
Ada siswa yang spontan menjawab 'dua'. Memang benar jawaban itu. Beberapa anak lain masih mikir-mikir. Akhirnya kujelaskan bagaimana cara menghitungnya.
Pelan-pelan kuceritakan si Ani mendapat 1 rambutan dulu, barulah Budi dan Ina juga kebagian 1 rambutan. Nah, kan masih ada sisa rambutan, bagilah lagi pada tiga anak sampai semuanya memperoleh rambutan sama banyak. Tak lupa tiap anak yang mendapat rambutan maka rambutannya wajib digambar di bawah orang. Lalu rambutan punyaku yang sudah dibagi-bagikan harus disilang atau dicoret sebagai tanda sudah habis. Setelah jawabannya ketemu barulah kutuliskan kesimpulannya dalam sebuah kotak, 6 : 3 = 2.
Satu soal latihan kutuliskan ke papan tulis.
Masih tentang buah rambutan namun beda pemilik. Kali ini rambutannya
akan diberikan pada tokoh kartun kembar asal Malaysia, Upin dan Ipin.
Aku lupa bagaimana gambar si kembar itu. Rehan dan siswa lain komen.
Kenapa kok gambar rambut Ipin ada rambutnya, jingkrak pula. Akupun hanya
ngeles bahwa itu Ipin yang tinggal di Indonesia, jadi kepalanya tidak
botak. Kembali ke soal latihan, Alhamdulillah murid-muridkupun bisa
menjawabnya. Yowel maju ke depan dan mengambil spidol. Tanpa kusuruh, ia
mengerjakan soal tadi. Benar pula jawabannya. Kalau kaya begini terus,
aku jadi semangat mengajar.
Setelah semua faham pembagian dalam
soal cerita, aku menjelaskan pembagian yang dihitung dari perkalian.
Misal 1 x8 = 8 dan 2x4=8 berarti 8:4 = 2.
Oh, ya, siswa kelas
empat berbeda dengan kelas lain. Mereka itu aktif. Mereka berani maju ke
depan dan tidak malu mengerjakan soal di papan tulis. Bahkan tak jarang
mereka berebut minta maju. Inilah yang kusukai dari mereka
Aku tak mau menyia-nyiakan potensinya. Kutulis 25 soal pembagian di
papan tulis. Sudah adil lah karena jumlah siswa yang hadir ada 25 orang.
Biar semua murid bisa maju dan tidak rebutan. Kusuruh tiap anak maju
dan mengerjakan sesuai urutan nomor. Siapa selesai duluan dia boleh maju
sesuai nomor. Pertanyaanku tidak sulit sih. Hanya pembagian sampai 10.
Anak yang biasanya dapat nilai sedikit pun ternyata bisa mengerjakan
dengan benar. Ah, senangnya melihat mereka paham. Ku koreksi pekerjaan
mereka di papan tulis. Hanya salah tiga dari dua puluh lima.
Pagi ini aku benar-benar gojlok materi pembagian. Aku menambahkan satu
pertanyaan dengan tokoh Unyil. Kugambar Unyil besar di papan tulis Dia
punya 15 durian yg diambil dari hutan Ngeringin. Ngeringin adalah nama
wilayah hutan di daerahku. Banyak pohon durian di sana. Kalau mau
durian, cukup datang ke hutan itu dan menunggu durian jatuh. Tapi harus
kuat lari dan berebut durian dengan kawan yang juga menunggu di sana.
Eh, Unyil akan membagikan duriannya pada 3 kawan kelas 4. Kutanya siapa
nama kawannya pada muridku. Mereka malah banyak yang angkat tangan.
Entah kenapa mereka angkat tangan, padahal maksudku ingin minta usul
nama. Akupun menulis Serio, Andi, dan Raju. Mereka siswa kelas 4 yang
barusan angkat tangan. Alhamdulillah lagi mereka sudah menjawab benar
saat aku bertanya jawabannya.
Akhirnya selesailah sesi belajar pembagian, mereka pun kemudian mencatat.
"Harus digambar juga, ya, Bu?" tanya beberapa anak saat hendak menyalin tulisan di papan tulis ke bukunya.
"Iya, biar buku kalian bagus ada gambarnya," gurauku.
"Harus digambar juga, ya, Bu?" tanya beberapa anak saat hendak menyalin tulisan di papan tulis ke bukunya.
"Iya, biar buku kalian bagus ada gambarnya," gurauku.
Apa alasanku menggambar obyek dan tokoh cerita? Meskipun saat ini adalah matematika dan bukan mapel menggambar.
Pertama, aku ingin menarik perhatian mereka. Kalau tak menggambar,
bisa-bisa aku bicara sendirian bagaikan orang tak didengar. Fokus dan
perhatian anak-anak sudah terpecah. Penyebabnya lapar, capek, dan minta
pulang. Tiga hal itulah yang pasti kudengar tiap jam pelajaran terakhir.
Maklum, rumah mereka jauh, sekitar satu sampai satu setengah jam
berjalan kaki. Merekapun kebanyakan tak sarapan. Saat jam istirahat
mereka banyak main. Minggu depan sudah UAS, jadi, tak boleh ada yang
mengabaikan pelajaran matematikaku kali ini.
Kedua, mematangkan
konsep. Rumah dapat berdiri kokoh jika pondasinya kuat. Pohon takkan
tumbang jika akarnya kuat. Begitupun anak-anak, konsep dasar akan
membantunya memahami cabang konsep lain. Konsep tersebut dituangkan ke
sebuah gambar untuk memperjelasnya. Pada pertemuan pertama aku tak
terburu-buru memaksa mereka menghafalkan hasil pembagian. Terpenting
mereka sudah tahu apa arti dan maksud dari pembagian. Akupun baru
mengajarkan pembagian sampai angka sepuluh. Jika mereka sudah faham
konsep awal dan percaya dirinya faham betul, maka barulah akan kuajarkan
pembagian dua digit dengan porogapit. Everybody is a genius. But if you
judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole
life believing that it is stupid (Albert Einstein).
Ketiga,
menyalurkan hobi dan bakat menggambar. Obyek yang digambar memang
sederhana, orang dan buah. Namun siswa kelas 4 tampak senang
menggambarnya. Biarlah sesekali ada gambar di buku matematika mereka.
Syukur kalau jadi penyemangat belajar.
Keempat, gambar adalah media pembelajaran yang gampang. Sebenarnya belajar pembagian terasa mudah jika dipraktikkan langsung. Namun media atau benda yang akan digunakan harus dipersiapkan lebih dulu. Selama aku mengajar, kuakui jarang mempersiapkan media pembelajaran. Jam mengajarku tak pasti karena aku masuk kelas jika guru kelas sedang tak masuk. Jadi, setiap harinya akupun tak tahu pasti akan mengajar kelas berapa. Menggambar adalah hal paling mudah dan efisien yang bisa kukerjakan saat itu.
Keempat, gambar adalah media pembelajaran yang gampang. Sebenarnya belajar pembagian terasa mudah jika dipraktikkan langsung. Namun media atau benda yang akan digunakan harus dipersiapkan lebih dulu. Selama aku mengajar, kuakui jarang mempersiapkan media pembelajaran. Jam mengajarku tak pasti karena aku masuk kelas jika guru kelas sedang tak masuk. Jadi, setiap harinya akupun tak tahu pasti akan mengajar kelas berapa. Menggambar adalah hal paling mudah dan efisien yang bisa kukerjakan saat itu.
Aku
bersyukur pembelajaran hari ini berjalan lancar. Sebagian besar siswa
faham apa itu pembagian. Melihat mereka manggut-manggut pertanda faham
saja sudah membuatku bahagia. Yah, kiranya seperti inilah kebahagiaan
dan kepuasaan guru ketika anak didiknya mengerti atas apa yang telah
diajarkan.
Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Mereka mulai berkemas
dan bersiap pulang. Tak lupa sebelumnya kuberi tugas untuk dikerjakan
di rumah.
01122015
0 komentar:
Posting Komentar