a

Fanpage



Instagram



Kamis, 24 Desember 2015

Kelas M.A.T.E.M.A.T.I.K.A vs Jam Pelajaran Terakhir

SM3T Unnes
Oleh : Fadlul Muna
10 Desember 2015
 


       Hari ini adalah hari pertama bulan Desember. Nah, hari ini aku mengajar Matematika di kelas 4. Anak-anak suka sekali dengan matematika. Padahal dulu ketika aku masih SD, MTK adalah mapel yang tak kusuka. Hehe. Tetapi siswa kelas 4 yang kuajar sangat menunggu-nunggu pelajaran ini. "Nanti matematika, ya, Bu," ucap Martini setiap aku akan masuk kelasnya.
Usai jam istirahat, aku masuk kelas 4. Biasanya pada jam kedua ini, anak-anak hampir tak fokus belajar. Mereka mungkin lelah setelah main bersama kawannya. Kepalakupun kadang terasa 'kemut-kemut' menghadapi mereka yang kadang ribut di kelas, tapi saat kutanya perihal materi ternyata belum faham. Mau kulanjutkan materi, materi awalnya saja belum faham, bagaimana bisa lanjut begitu saja. Mau kuakhiri pelajarannya, tapi baru sejam aku masuk. Akhirnya hal ini jadi dilema dalam hati yang berujung 'sirah ngelu'.

       Maka hari ini ingin kubuat beda. Apalagi 1 bab materi matematika yang baru mereka pelajari belum selesai. Minggu depan mungkin sudah UAS. Tak banyak waktu tersisa untuk belajar.
Kulihat catatan mereka. Sudah sampai operasi hitung campuran rupanya. Itu lho perhitungan yang ada kali bagi tambah kurang. Kalau guru di sekolahku dulu menyebutnya pipolondo, ping poro lan sudo. Ping adalah perkalian, poro adalah pembagian, lan artinya pertambahan, dan sudo artinya pengurangan.

       Sudah beberapa kali juga mereka mendapat tugas dan PR tentang pipolondo ini. Namun kebanyakan masih belum faham pembagian. Nia dulu pernah bercerita kalau anak-anak masih kebingungan soal pembagian. Padahal sudah ia buatkan soal cerita agar lebih faham.
Aku berencana mengulang materi pembagian. Kalau tak diulang, nanti bisa berpengaruh saat di kelas 5 dan 6 ataupun saat SMP. Pipolondo ini sering digunakan pada MTK atau IPA bagian fisika saat SMP. Banyak kawan dan kakak angkatan SM-3T bercerita bahwa ketika mengajar IPA SMP, mereka harus mengulang materi MTK dasar lagi. Jadi prinsipku, materi dasar harus mereka kuasai.
Aku mengulang perkalian dulu agar mereka tak lupa. Kupandu mereka untuk bernyanyi satu kali satu sama dengan satu, seperti lagu satu satu aku sayang ibu. Lagu perkalian ini pun ada ceritanya. Saat aku mengajar FPB dan KPK di kelas 6, masih banyak siswa yang belum hafal perkalian. Alhamdulillah mereka sudah faham perkalian kok, mereka bisa menghitung perkalian dengan cara menggambar lidi.

       Oh ya, anak murid di sini suka sekali bernyanyi. Lagu apa saja mereka nyanyikan. Akupun terfikir untuk menggubah lirik sebuah lagu menjadi perkalian. Konon, katanya lagu bisa membuat siswa menjadi cepat hafal. Nah, lagu satu satu aku sayang ibu itulah yang kurasa cocok. Jadilah lagu perkalian ini kupraktikkan perdana di kelas 6. Dan sekarang kuterapkan ke semua kelas, kelas 4, 5, dan 6. Efeknya, siswa kelas 4 lumayan bisa hafal, meskipun belum semuanya.
Kembali ke operasi hitung 'poro', akupun sebenarnya bingung bagaimana cara membuat anak-anak faham pembagian. Kuingat-ingat bagaimana guru SD bagaimana mengajariku dulu. Sayang, akupun tak ingat. Hehe.

       Aku membuat soal cerita sederhana sebagai pemanasan. Kukisahkan bahwa diriku mempunyai 6 buah rambutan. Lalu kugambar enam buah rambutan di papan tulis. Ada 3 murid main ke rumahku. Mereka bernama Ani, Budi, dan Ina. Kugambar lagi tokoh Ani, Budi, dan Ina di papan tulis. Aku mau memberi rambutan pada mereka. "Berapakah rambutan yang masing-masing diterima?" tanyaku pada anak-anak yang mendengar cerita dengan antusias.
Ada siswa yang spontan menjawab 'dua'. Memang benar jawaban itu. Beberapa anak lain masih mikir-mikir. Akhirnya kujelaskan bagaimana cara menghitungnya.
Pelan-pelan kuceritakan si Ani mendapat 1 rambutan dulu, barulah Budi dan Ina juga kebagian 1 rambutan. Nah, kan masih ada sisa rambutan, bagilah lagi pada tiga anak sampai semuanya memperoleh rambutan sama banyak. Tak lupa tiap anak yang mendapat rambutan maka rambutannya wajib digambar di bawah orang. Lalu rambutan punyaku yang sudah dibagi-bagikan harus disilang atau dicoret sebagai tanda sudah habis. Setelah jawabannya ketemu barulah kutuliskan kesimpulannya dalam sebuah kotak, 6 : 3 = 2. 

Satu soal latihan kutuliskan ke papan tulis.
Masih tentang buah rambutan namun beda pemilik. Kali ini rambutannya akan diberikan pada tokoh kartun kembar asal Malaysia, Upin dan Ipin. Aku lupa bagaimana gambar si kembar itu. Rehan dan siswa lain komen. Kenapa kok gambar rambut Ipin ada rambutnya, jingkrak pula. Akupun hanya ngeles bahwa itu Ipin yang tinggal di Indonesia, jadi kepalanya tidak botak. Kembali ke soal latihan, Alhamdulillah murid-muridkupun bisa menjawabnya. Yowel maju ke depan dan mengambil spidol. Tanpa kusuruh, ia mengerjakan soal tadi. Benar pula jawabannya. Kalau kaya begini terus, aku jadi semangat mengajar.

        Setelah semua faham pembagian dalam soal cerita, aku menjelaskan pembagian yang dihitung dari perkalian. Misal 1 x8 = 8 dan 2x4=8 berarti 8:4 = 2.
Oh, ya, siswa kelas empat berbeda dengan kelas lain. Mereka itu aktif. Mereka berani maju ke depan dan tidak malu mengerjakan soal di papan tulis. Bahkan tak jarang mereka berebut minta maju. Inilah yang kusukai dari mereka

        Aku tak mau menyia-nyiakan potensinya. Kutulis 25 soal pembagian di papan tulis. Sudah adil lah karena jumlah siswa yang hadir ada 25 orang. Biar semua murid bisa maju dan tidak rebutan. Kusuruh tiap anak maju dan mengerjakan sesuai urutan nomor. Siapa selesai duluan dia boleh maju sesuai nomor. Pertanyaanku tidak sulit sih. Hanya pembagian sampai 10. Anak yang biasanya dapat nilai sedikit pun ternyata bisa mengerjakan dengan benar. Ah, senangnya melihat mereka paham. Ku koreksi pekerjaan mereka di papan tulis. Hanya salah tiga dari dua puluh lima.
Pagi ini aku benar-benar gojlok materi pembagian. Aku menambahkan satu pertanyaan dengan tokoh Unyil. Kugambar Unyil besar di papan tulis Dia punya 15 durian yg diambil dari hutan Ngeringin. Ngeringin adalah nama wilayah hutan di daerahku. Banyak pohon durian di sana. Kalau mau durian, cukup datang ke hutan itu dan menunggu durian jatuh. Tapi harus kuat lari dan berebut durian dengan kawan yang juga menunggu di sana. Eh, Unyil akan membagikan duriannya pada 3 kawan kelas 4. Kutanya siapa nama kawannya pada muridku. Mereka malah banyak yang angkat tangan. Entah kenapa mereka angkat tangan, padahal maksudku ingin minta usul nama. Akupun menulis Serio, Andi, dan Raju. Mereka siswa kelas 4 yang barusan angkat tangan. Alhamdulillah lagi mereka sudah menjawab benar saat aku bertanya jawabannya.
Akhirnya selesailah sesi belajar pembagian, mereka pun kemudian mencatat.
"Harus digambar juga, ya, Bu?" tanya beberapa anak saat hendak menyalin tulisan di papan tulis ke bukunya.
"Iya, biar buku kalian bagus ada gambarnya," gurauku.
Apa alasanku menggambar obyek dan tokoh cerita? Meskipun saat ini adalah matematika dan bukan mapel menggambar.

Pertama, aku ingin menarik perhatian mereka. Kalau tak menggambar, bisa-bisa aku bicara sendirian bagaikan orang tak didengar. Fokus dan perhatian anak-anak sudah terpecah. Penyebabnya lapar, capek, dan minta pulang. Tiga hal itulah yang pasti kudengar tiap jam pelajaran terakhir. Maklum, rumah mereka jauh, sekitar satu sampai satu setengah jam berjalan kaki. Merekapun kebanyakan tak sarapan. Saat jam istirahat mereka banyak main. Minggu depan sudah UAS, jadi, tak boleh ada yang mengabaikan pelajaran matematikaku kali ini.

Kedua, mematangkan konsep. Rumah dapat berdiri kokoh jika pondasinya kuat. Pohon takkan tumbang jika akarnya kuat. Begitupun anak-anak, konsep dasar akan membantunya memahami cabang konsep lain. Konsep tersebut dituangkan ke sebuah gambar untuk memperjelasnya. Pada pertemuan pertama aku tak terburu-buru memaksa mereka menghafalkan hasil pembagian. Terpenting mereka sudah tahu apa arti dan maksud dari pembagian. Akupun baru mengajarkan pembagian sampai angka sepuluh. Jika mereka sudah faham konsep awal dan percaya dirinya faham betul, maka barulah akan kuajarkan pembagian dua digit dengan porogapit. Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid (Albert Einstein).

Ketiga, menyalurkan hobi dan bakat menggambar. Obyek yang digambar memang sederhana, orang dan buah. Namun siswa kelas 4 tampak senang menggambarnya. Biarlah sesekali ada gambar di buku matematika mereka. Syukur kalau jadi penyemangat belajar.
Keempat, gambar adalah media pembelajaran yang gampang. Sebenarnya belajar pembagian terasa mudah jika dipraktikkan langsung. Namun media atau benda yang akan digunakan harus dipersiapkan lebih dulu. Selama aku mengajar, kuakui jarang mempersiapkan media pembelajaran. Jam mengajarku tak pasti karena aku masuk kelas jika guru kelas sedang tak masuk. Jadi, setiap harinya akupun tak tahu pasti akan mengajar kelas berapa. Menggambar adalah hal paling mudah dan efisien yang bisa kukerjakan saat itu.

       Aku bersyukur pembelajaran hari ini berjalan lancar. Sebagian besar siswa faham apa itu pembagian. Melihat mereka manggut-manggut pertanda faham saja sudah membuatku bahagia. Yah, kiranya seperti inilah kebahagiaan dan kepuasaan guru ketika anak didiknya mengerti atas apa yang telah diajarkan.
Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Mereka mulai berkemas dan bersiap pulang. Tak lupa sebelumnya kuberi tugas untuk dikerjakan di rumah.
01122015

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: