Oleh : Roni Wanfuadi
8 februari 2016
Ketika masih berada di bangku SMP, perjalanan saya menuju sekolah biasa ditempuh dengan menggunakan angkot. Naik truk, satu mobil dengan hewan, bahkan nyetop (nebeng) orang yang lewat pun pernah. grin emoticon Mau bagaimana lagi, saat itu angkot masih langka.
Saat perjalanan pulang, tidak jarang saya harus berjalan dari desa sebelah sekitar 20 menit. Itu karena angkot yang tidak menjangkau desa dimana saya tinggal. Dengan kondisi tersebut, tidak heran jika saya mendapat predikat siswa 'telatan' dari teman2. pacman emoticon Bahkan saya hampir menangis ketika awal2 masuk SMP tidak ada angkot yang lewat! 😭
Memasuki fase SMA, sewaktu duduk di kelas 10 & 11 akses menggunakan angkot tidaklah sesulit masa SMP. Jika telatpun istilahnya 'ora nggagas', saat itu. 😂😂
Saya pun iseng2 bertanya pada babe, kapan dibelikan motor? Wajarlah kalau pengen seperti teman2 sebaya. Memasuki pertengahan kelas 11, saya pun dibelikan motor Supra X 125 versi standar. Wis uuapik kanggoku. pacman emoticon
Tentunya tanpa saya berfikir dari mana orang tua mendapat uangnya? Hutangkah? Entah. Yang saya fikirkan saat itu hanya punya motor, sekaligus bisa nampang sama temen2. Itu saja kadang saya masih gengsi menaikinya, karena pamornya kurang mungkin.
Lulus dari SMA, ada yang sedikit berubah dengan pola pikir saya setelah menjadi bagian dari keluarga ROHIS. Utamanya setelah mendapat bimbingan dari murabbi hebat seperti PUntung Sudarsirsi, MEdy YUwantorooro, MAlwilwi, bahkan keponakan sekaligus adik kelHanafi Ridwan Dwiatmojoojo. Saya mulai banyak belajar dari mereka.
Kembali ke topik kuda besi. Ketika memasuki bangku perkuliahan saya pun mulai berfikir, untuk apa motor bagus? Untuk apa gengsi? Untuk apa minder ketika harus tampil sederhana?
Akhirnya saya memilih motor butut tua milik babe, Astrea Grand 1997 berwarna tepi hijau. Jujur saya sangat malu ketika awal membawanya ke kampus. Wajar, itu adalah proses hijrah.
Namun, motor inilah yang akhirnya menjadi sahabat kemanapun saya melancong. Jogja, Solo, Malang, Semarang saya sambangi dengan motor butut ini. Banyak yang bertanya bagaimana kalau macet di jalan? Saya jawab enteng tergantung perawatannya. Faktanya babe lah yang selalu menyervis motor tersebut. 😂😂 Sehingga mesinnya tetap prima.
Layaknya pecinta Vespa yang terkenal loyal, saya pun terlanjur gandrung dengan Astrea. Dengan nalar yang berbeda, ada perasaan malu ketika menaiki motor tersebut. Bukan karena modelnya yang jadul, sama sekali bukan. Lebih karena motor se 'jadul' itupun, labelnya masih pemberian orang tua. Sekali lagi PEMBERIAN ORANG TUA.
Hari ini, berada di Kalbar untuk pengabdian SM3T mengharuskan saya punya motor. Karena memang tidak ada alat transportasi umum yang menuju kecamatan dimana saya ditempatkan.
Akhirnya setelah menyisihkan biaya hidup, saya membeli motor Astrea Legenda, saudara Astrea Grand. Berharap dapat mengukir kenangan lagi bersama Astrea.
Begitulah. Gambaran singkat seputar sahabat tak bernyawa yang saya punya. Dari tulisan ini, tidak ada maksud untuk menyombongkan apapun. Hanya sekedar berbagi rasa bahwa hidup di level manapun, nikmati saja. Jangan malu untuk tampil sederhana.
Kata orang, 'Jangan mati - matian mengejar sesuatu hal yang tidak bisa dibawa mati.'
Mudah2n ada himah yang bisa diambil. Mohon maaf jika ada kata2 yg kurang berkenan.

0 komentar:
Posting Komentar