Oleh : Dewi Puspitasari
2 Januari 2016
Tanah Kalimantan, tepatnya di dusun Toho Raba, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Di sanalah sepenggal perjalananku akan terlewati. Selama satu tahun menjalani kehidupan sebagai guru di SDN 19 Toho Raba.
Akses menuju tempat dinas dapat dikatakan tidak memiliki kendala
berarti dikarenakan jalanan yang sudah aspal dan jarak tempuh yang hanya
40 menit dari pusat kota Ngabang.
Sekolah ini telah memiliki 7
orang guru dengan rincian 5 orang guru PNS dan 2 orang guru honorer
ditambah kami dua orang guru SM-3T.
Mengajar di sekolah ini
memberikan tantangan tersendiri bagi kami guru SM-3T. Kendala yang
sangat terasa saat pertama kali mengajar adalah bahasa. Masih sedikit
siswa yang dapat berbicara menggunakan bahasa Indonesia, sementara yang
lain menggunakan bahasa ibu mereka yaitu benyadu dan balangin. Apabila
ada guru yang marah dan menggunakan bahasa Indonesia, mereka tidak akan
mengerti dan harus menggunakan bahasa benyadu atau balangin. Namun
itulah indahnya perbedaan. Dimana harus ada saling pengertian diantara
keduanya.
Salah satu penyemangat saat berada di Toho Raba adalah
murid murid yang sangat antusias menyambut kedatangan gurunya ke
sekolah. Pagi pagi sekali mereka datang ke rumah dinas dan menunggu
untuk berangkat sekolah bersama sama. Sesampainya disekolah, mereka
sudah berkerumun berebut untuk mencium tangan dan ramai ramai mengatakan
“Bu Dewi...
ajar kami bu, ajar kami...”
Betapa indahnya mengajar disini,
Di tanah yang tak terbayangkan akan kupijak,
Bersama 50 pejuang pendidikan,
Bersama kalian, My beloved Landakers.

0 komentar:
Posting Komentar