a

Fanpage



Instagram



Sabtu, 23 Januari 2016

CINTA UNTUK BANGSA

SM3T Unnes
 Oleh : Hornit Winasista Utami
22 Januari 2016

Bukan seberapa pandai kita dilahirkan
Tapi seberapa besar niat kita menjadi terdepan
Bukan seberapa besar mulut kita bicara
Tapi seberapa pandai hati bekerja

       Tuhan tak ciptakan semua manusia dengan IQ yang tinggi, bukan berarti Tuhan tak maha adil bukan? Tuhan ciptakan semua manusia dengan segala perasaannya. Tak ada manusia yang terlahir gila, segala keterbatasan dan kebutuhan khusus Tuhan tetap titipkan perasaan di hatinya. Rasa iri murah hati, sedih bahagia, benci dan juga cinta.
Tinggal perasaan apa yang ingin kita tanam subur dan bagian mana yang ingin kita kurangi bahkan kita hilangkan dari hati ini.
 
       Aku memilih memupuk rasa cinta, memangkas habis dan mencabut rasa iri dan benci di hati. Tapi itu tak semudah membalikan telapak tangan. Ada proses disana. Pernah ku dengan mudah menjalaninya, namun sempat juga ku terpeleset melewatinya, berat untuk kembali berdiri. Dan sekarang?
 
       Sekarang! di sini di tempat dimana ku menjadi minoritas, jauh dari semua kenyamanan yang ku dapat sebelumnya! Jauh dari mereka yang menyayangiku. Kupupuk hati ini. Semua karena ku ingin menyuburkan rasa cinta ku, akan dunia pendidikan. Disinipula ku merasakan cinta dari para generasi muda yang kurang mendapat perhatiian seperti layaknya mereka generasi muda yang ada di Pulauku, JAWA! Ku percaya banyak pembelajaran kan kudapat dari mereka di sini.
 
       Semangat mereka menuju sekolah tak kalah, bahkan mungkin lebih dari mereka yang mendapat perhatian besar dari lingkungan hidupnya. Berjalan kaki lebih dari 1 Km pun mereka tempuh untuk sampai ke sekolah. Bahkan ada yang rela tinggal di asrama sekolah. Asrama sekolah? Rela? Ya rela, karena kata asrama sekolah di sini, jauh dari segala fasilitas dan pelayanan. Biaya asrama Rp 75.000,00 per tahun, PERTAHUN. Jauh lebih sedikit dibandingkan uang pulsa yang sering kita gunakan dalam satu bulan bukan?
 
       Ada juga yang kusayangkan semangat mereka menuju kesekolah terkadang tak sejalan dengan dukungan dari lingkungan bahkan dirinya sendiri. Hujan deras yang membuat tanah di jalan rumah mereka becek, membantu orang tua berladang, mencari pasir, dan bahkan rasa malas seolah menjadi alasan yang benar, bahkan baik, untuk tidak berangkat sekolah. Beberapa hal itu yang kusayangkan, tapi banyak hal yang membuat hati ini percaya bahwa diantara mereka, kedepan akan menjadi orang yang berguna bagi bangsa ini. Cukup banyak kejadian yang membuatku yakin!
 
       Siang itu di tanggal 21 September ada dua siswa menjumpaiku didepan perpustakaan sepulang sekolah. Mereka berbicara lirih, “Ibu bolehkah kami belajar dengan ibu?” Ku jawab dengan senyum dan ajakan untuk masuk ke “rumah” ku. Beberapa saat ku ajarkan matematika sesuai materi yang disampaikan dikelas, tak lama aku menyadari ada yang belum semestinya. Ketika menghiting pembagian, membutuhkan waktu yang lama, sangat lama bahkan. Ku coba tes dengan angka kecil 10 : 2 dan iya, ku harus menunggu beberapa waktu. “Prihatin” hati ini, melihat pembagian di kelas 9 belum bisa dia jawab dengan cepat. Ku urungkan niatku untuk mengajarkan sesuai materi di sekolah, Ku memulai benar – benar dari dasar. Di tengah ku mengajarkan dasar matematika, salah satu diantara mereka bertanya padaku “ Ibu saya ingin menjadi anak pintar, mampukah saya?” Seketika itu ku cepat – cepat membuat bendungan, agar air mata ini tak menetes. Sejenak kuterdiam, ku ambil nafas dalam – dalam “Kalian pasti mampu, asal kalian memiliki tekat untuk belajar dengan rajin, Tuhan pasti melihat usaha umatnya bukan?” Kataku. Entah mengapa saat itu ku ingin menangis, mungkin saat itu ku rasaakan semangat yang besar ketika mereka mengutarakan pertanyaan itu. YA! Keterbatasaan adalah sesuatu yang harus dilampaui.
 
       Mengajar dan mendidik butuh rasa tulus, dan didalamnya itu ada kata sabar dibutuhkan. Ya aku ingin benar – benar tulus mendidik mereka tapi nyatanya sempat ku tinggikan nada suaraku, ku kehilangan sabar saat itu. Ketika itu, ku isi jam kosong mata pelajaran matematika. Aku mengajar tidak sesuai materi di kelas karena aku ingat kejadian sebelumnya, bahwa perhitungan dasar matematika belum pandai mereka kerjakan. Ku isi dengan pengurangan, dan benar mereka belum memahaminya. Entah mengapa saat itu hati ini kesal bukan main, dalam hati mempertanyaakan yang benar saja, perhitungan143 dikurangi dengan 27 hasilnya 124. Kesal hati ini dibuatnya, bagaimana dapat mengerjakan soal matematika yang lain jika pengurangan saja masih belum lancar.
 
       Hal yang membuatku tak terkendali saat itu adalah, keributan yang menyebalkan, dan sebenarnya mereka sudah mengetahui cara mengerjakannya hanya saja karena tidak sering berlatih, hal yang mudah menjadi hal yang sangat sulit bagi mereka. Setelah ku berhasil menenangkan diriku, mereka ku beri latihan soal – soal pengurangan. Beberapa diantara mereka, maju tanpa saya tunjuk dan hasilnya mereka bisa mengerjakan dengan benar walau tetap membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu cukup mengembalikan senyum di hatiku. Sekali lagi ini proses. Proses untuk mereka dan aku dalam melatih hati ini untuk lebih manis lagi. Memang tak mudah mengajar di sini, perbedaan karakter dengan siswa yang pernah aku ajar sebelumnya jelas terlihat. Kemampuan akademis nampak jauh berbeda namun dengan demikian di sini ku masih melihat ketulusan anak – anak yang benar – benar ingin memperbaiki kehidupannya

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: