Oleh : Hornit Winasista Utami
22 Januari 2016
Bukan seberapa pandai kita dilahirkan
Tapi seberapa besar niat kita menjadi terdepan
Bukan seberapa besar mulut kita bicara
Tapi seberapa pandai hati bekerja
Tapi seberapa besar niat kita menjadi terdepan
Bukan seberapa besar mulut kita bicara
Tapi seberapa pandai hati bekerja
Tuhan tak ciptakan semua manusia dengan IQ yang tinggi, bukan berarti
Tuhan tak maha adil bukan? Tuhan ciptakan semua manusia dengan segala
perasaannya. Tak ada manusia yang terlahir gila, segala keterbatasan
dan kebutuhan khusus Tuhan tetap titipkan perasaan di hatinya. Rasa iri
murah hati, sedih bahagia, benci dan juga cinta.
Tinggal perasaan apa yang ingin kita tanam subur dan bagian mana yang ingin kita kurangi bahkan kita hilangkan dari hati ini.
Tinggal perasaan apa yang ingin kita tanam subur dan bagian mana yang ingin kita kurangi bahkan kita hilangkan dari hati ini.
Aku memilih memupuk rasa cinta, memangkas habis dan mencabut rasa iri
dan benci di hati. Tapi itu tak semudah membalikan telapak tangan. Ada
proses disana. Pernah ku dengan mudah menjalaninya, namun sempat juga ku
terpeleset melewatinya, berat untuk kembali berdiri. Dan sekarang?
Sekarang! di sini di tempat dimana ku menjadi minoritas, jauh dari
semua kenyamanan yang ku dapat sebelumnya! Jauh dari mereka yang
menyayangiku. Kupupuk hati ini. Semua karena ku ingin menyuburkan rasa
cinta ku, akan dunia pendidikan. Disinipula ku merasakan cinta dari para
generasi muda yang kurang mendapat perhatiian seperti layaknya mereka
generasi muda yang ada di Pulauku, JAWA! Ku percaya banyak pembelajaran
kan kudapat dari mereka di sini.
Semangat mereka menuju sekolah tak
kalah, bahkan mungkin lebih dari mereka yang mendapat perhatian besar
dari lingkungan hidupnya. Berjalan kaki lebih dari 1 Km pun mereka
tempuh untuk sampai ke sekolah. Bahkan ada yang rela tinggal di asrama
sekolah. Asrama sekolah? Rela? Ya rela, karena kata asrama sekolah di
sini, jauh dari segala fasilitas dan pelayanan. Biaya asrama Rp
75.000,00 per tahun, PERTAHUN. Jauh lebih sedikit dibandingkan uang
pulsa yang sering kita gunakan dalam satu bulan bukan?
Ada
juga yang kusayangkan semangat mereka menuju kesekolah terkadang tak
sejalan dengan dukungan dari lingkungan bahkan dirinya sendiri. Hujan
deras yang membuat tanah di jalan rumah mereka becek, membantu orang tua
berladang, mencari pasir, dan bahkan rasa malas seolah menjadi alasan
yang benar, bahkan baik, untuk tidak berangkat sekolah. Beberapa hal itu
yang kusayangkan, tapi banyak hal yang membuat hati ini percaya bahwa
diantara mereka, kedepan akan menjadi orang yang berguna bagi bangsa
ini. Cukup banyak kejadian yang membuatku yakin!
Siang itu di
tanggal 21 September ada dua siswa menjumpaiku didepan perpustakaan
sepulang sekolah. Mereka berbicara lirih, “Ibu bolehkah kami belajar
dengan ibu?” Ku jawab dengan senyum dan ajakan untuk masuk ke “rumah”
ku. Beberapa saat ku ajarkan matematika sesuai materi yang disampaikan
dikelas, tak lama aku menyadari ada yang belum semestinya. Ketika
menghiting pembagian, membutuhkan waktu yang lama, sangat lama bahkan.
Ku coba tes dengan angka kecil 10 : 2 dan iya, ku harus menunggu
beberapa waktu. “Prihatin” hati ini, melihat pembagian di kelas 9 belum
bisa dia jawab dengan cepat. Ku urungkan niatku untuk mengajarkan sesuai
materi di sekolah, Ku memulai benar – benar dari dasar. Di tengah ku
mengajarkan dasar matematika, salah satu diantara mereka bertanya padaku
“ Ibu saya ingin menjadi anak pintar, mampukah saya?” Seketika itu ku
cepat – cepat membuat bendungan, agar air mata ini tak menetes. Sejenak
kuterdiam, ku ambil nafas dalam – dalam “Kalian pasti mampu, asal kalian
memiliki tekat untuk belajar dengan rajin, Tuhan pasti melihat usaha
umatnya bukan?” Kataku. Entah mengapa saat itu ku ingin menangis,
mungkin saat itu ku rasaakan semangat yang besar ketika mereka
mengutarakan pertanyaan itu. YA! Keterbatasaan adalah sesuatu yang harus
dilampaui.
Mengajar dan mendidik butuh rasa tulus, dan didalamnya
itu ada kata sabar dibutuhkan. Ya aku ingin benar – benar tulus mendidik
mereka tapi nyatanya sempat ku tinggikan nada suaraku, ku kehilangan
sabar saat itu. Ketika itu, ku isi jam kosong mata pelajaran matematika.
Aku mengajar tidak sesuai materi di kelas karena aku ingat kejadian
sebelumnya, bahwa perhitungan dasar matematika belum pandai mereka
kerjakan. Ku isi dengan pengurangan, dan benar mereka belum memahaminya.
Entah mengapa saat itu hati ini kesal bukan main, dalam hati
mempertanyaakan yang benar saja, perhitungan143 dikurangi dengan 27
hasilnya 124. Kesal hati ini dibuatnya, bagaimana dapat mengerjakan soal
matematika yang lain jika pengurangan saja masih belum lancar.
Hal
yang membuatku tak terkendali saat itu adalah, keributan yang
menyebalkan, dan sebenarnya mereka sudah mengetahui cara mengerjakannya
hanya saja karena tidak sering berlatih, hal yang mudah menjadi hal
yang sangat sulit bagi mereka. Setelah ku berhasil menenangkan diriku,
mereka ku beri latihan soal – soal pengurangan. Beberapa diantara
mereka, maju tanpa saya tunjuk dan hasilnya mereka bisa mengerjakan
dengan benar walau tetap membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu
cukup mengembalikan senyum di hatiku. Sekali lagi ini proses. Proses
untuk mereka dan aku dalam melatih hati ini untuk lebih manis lagi.
Memang tak mudah mengajar di sini, perbedaan karakter dengan siswa yang
pernah aku ajar sebelumnya jelas terlihat. Kemampuan akademis nampak
jauh berbeda namun dengan demikian di sini ku masih melihat ketulusan
anak – anak yang benar – benar ingin memperbaiki kehidupannya
0 komentar:
Posting Komentar