a

Fanpage



Instagram



Selasa, 19 Januari 2016

Asyiknya Berkebun Mini di SMP N 8 Ngabang

SM3T Unnes
Oleh : Niken Setya
14 Januari 2016

        Allah menganugerahi manusia bumi yang maha luas, hutan hijau yang menyegarkan rongga dada, kelokan anak sungai yang mempesona dan puncak-puncak gunung yang memanjakan mata. Sepatutnya kita jaga untuk anak cucu kita. Apalagi tanah di daerah pedalaman tempat saya bertugas sangat mendukung untuk kegiatan berladang maupun berkebun. Nah untuk meningkatkan kepedulian alam sekitar, para siswa di SMP N 8 Ngabang membuat Kebun Mini sebagai praktik mulok BDP.
 
       Awalnya asing di telinga mendengar istilah BDP untuk salah satu mata pelajaran Mulok. Karena dulu ketika pelajaran Mulok pastilah kita akan belajar bahasa daerah. Berbeda dengan sekolah tempat saya bertugas. Karena sumberdaya yang dimiliki sekolah berbasis lahan, maka dimanfaatkan untuk berkebun. Lahan seluas 15 x 20 meter yang dulunya rawa dan juga bersisian dengan semak belukar 'disulap' menjadi lahan yang siap untuk ditanami palawija. Tentunya mereka harus membawa alat untuk menebas rumput liar, mencangkul, dan membersihkan parit.
 
       Kegiatan berkebun dilakukan oleh siswa dengan dibantu guru BDP masing-masing. Untuk kelas 7 dan 8, mereka dibimbing oleh Pak Aidha. Untuk kelas 9, dibimbing oleh Pak Dodi. Nah pembagiannya, tiap kelas dibagi menjadi 2 kelompok. Tiap kelompok menanam jenis sayuran yang berbeda. Dua kelompok kelas 7 menanam sayur terong dan ketela. Sedangkan kelas 8 menanam jagung dan cabai. Kelas 9 menanam tanaman kangkung di halaman belakang sekolah. Bibit yang mereka tanam diperoleh sebagian dari guru dan hasil panen sebelumnya. Oh ya mereka juga diajarkan untuk bertanam padi. Menarik sekali, anak-anak di sini benar-benar diajak untuk menjadi petani cilik. Menanam padi di kebun mini milik sekolah, hanya untuk percontohan saja supaya mereka paham teknik tertanam padi.
 
       Sudah satu semester ini mereka menanam sayur dan merawatnya, hasilnya sudah bisa dilihat. Daun ketela yang sudah bisa dipetik, meskipun buahnya belum bisa dipanen karena masih kecil. Tanaman cabai yang mulai berbuah, dan juga terong meskipun buahnya masih kecil, kelak juga akan besar. Tanaman jagung yang mulai tumbuh meskipun buahnya kecil, tapi tak apa nanti beberapa bulan lagi akan besar. Sayur kacang juga mulai tumbuh diantara tanaman lain. Pernah suatu ketika pelajaran BDP, Veronika memberi satu ikat genjer yang dia petik dari kebun praktik BDP. Dengan malu-malu ia tersenyum sambil mengulurkan tangan, "Ini Bu untuk Ibu." Spontan kujawab, "Waah.. terima kasih Veronika." "Digoreng nyaman bu." Sahut salah seorang kelas 7. "Oh ya nanti mau Ibu goreng genjerna" kataku menimpali. Maksud digoreng di sini bukan digoreng dengan minyak kemudian diberi tepung seperti keripik tetapi artinya ditumis. Selain dapat sayur dari anak-anak juga dapat mempelajari kosa kata baru mereka. Ya pengalaman belajar di luar kelas memang menyenangkan. Kita lebih bisa mengenal sumberdaya alam lebih dekat lagi, berinteraksi dengan murid menjadi menyenangkan, dan turut merasakan hasil kerja dari hasil berkebun mereka. Itulah sepenggal kisah bersama anak-anak di luar kelas mendampingi kegiatan berkebun. Ini kebun kami, mana kebunmu?

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: