Oleh : Niken Setya
14 Januari 2016
Allah menganugerahi manusia bumi yang maha luas, hutan hijau yang menyegarkan rongga dada, kelokan anak sungai yang mempesona dan puncak-puncak gunung yang memanjakan mata. Sepatutnya kita jaga untuk anak cucu kita. Apalagi tanah di daerah pedalaman tempat saya bertugas sangat mendukung untuk kegiatan berladang maupun berkebun. Nah untuk meningkatkan kepedulian alam sekitar, para siswa di SMP N 8 Ngabang membuat Kebun Mini sebagai praktik mulok BDP.
Awalnya asing di telinga mendengar
istilah BDP untuk salah satu mata pelajaran Mulok. Karena dulu ketika
pelajaran Mulok pastilah kita akan belajar bahasa daerah. Berbeda dengan
sekolah tempat saya bertugas. Karena sumberdaya yang dimiliki sekolah
berbasis lahan, maka dimanfaatkan untuk berkebun. Lahan seluas 15 x 20
meter yang dulunya rawa dan juga bersisian dengan semak belukar
'disulap' menjadi lahan yang siap untuk ditanami palawija. Tentunya
mereka harus membawa alat untuk menebas rumput liar, mencangkul, dan
membersihkan parit.
Kegiatan berkebun dilakukan oleh siswa
dengan dibantu guru BDP masing-masing. Untuk kelas 7 dan 8, mereka
dibimbing oleh Pak Aidha. Untuk kelas 9, dibimbing oleh Pak Dodi. Nah
pembagiannya, tiap kelas dibagi menjadi 2 kelompok. Tiap kelompok
menanam jenis sayuran yang berbeda. Dua kelompok kelas 7 menanam sayur
terong dan ketela. Sedangkan kelas 8 menanam jagung dan cabai. Kelas 9
menanam tanaman kangkung di halaman belakang sekolah. Bibit yang mereka
tanam diperoleh sebagian dari guru dan hasil panen sebelumnya. Oh ya
mereka juga diajarkan untuk bertanam padi. Menarik sekali, anak-anak di
sini benar-benar diajak untuk menjadi petani cilik. Menanam padi di
kebun mini milik sekolah, hanya untuk percontohan saja supaya mereka
paham teknik tertanam padi.
Sudah satu semester ini mereka
menanam sayur dan merawatnya, hasilnya sudah bisa dilihat. Daun ketela
yang sudah bisa dipetik, meskipun buahnya belum bisa dipanen karena
masih kecil. Tanaman cabai yang mulai berbuah, dan juga terong meskipun
buahnya masih kecil, kelak juga akan besar. Tanaman jagung yang mulai
tumbuh meskipun buahnya kecil, tapi tak apa nanti beberapa bulan lagi
akan besar. Sayur kacang juga mulai tumbuh diantara tanaman lain. Pernah
suatu ketika pelajaran BDP, Veronika memberi satu ikat genjer yang dia
petik dari kebun praktik BDP. Dengan malu-malu ia tersenyum sambil
mengulurkan tangan, "Ini Bu untuk Ibu." Spontan kujawab, "Waah.. terima
kasih Veronika." "Digoreng nyaman bu." Sahut salah seorang kelas 7. "Oh
ya nanti mau Ibu goreng genjerna" kataku menimpali. Maksud digoreng di
sini bukan digoreng dengan minyak kemudian diberi tepung seperti keripik
tetapi artinya ditumis. Selain dapat sayur dari anak-anak juga dapat
mempelajari kosa kata baru mereka. Ya pengalaman belajar di luar kelas
memang menyenangkan. Kita lebih bisa mengenal sumberdaya alam lebih
dekat lagi, berinteraksi dengan murid menjadi menyenangkan, dan turut
merasakan hasil kerja dari hasil berkebun mereka. Itulah sepenggal kisah
bersama anak-anak di luar kelas mendampingi kegiatan berkebun. Ini
kebun kami, mana kebunmu?

0 komentar:
Posting Komentar