Oleh : Hornit Winasista Utami
24 Januari 2016
Kejadian itu membuatku berpikir
keras bagaimana seharusnya aku mengajar, pantaskah aku berteriak?
Pantaskah aku marah? Ku putuskan semua itu boleh ku tempuh jika memang
tak ada cara lain, ku persilahkan diriku melakukan itu semua dengan
alasan demi kebaikan mereka bukan hanya sekedar tak sabar dan ingin
meluapkan emosi semata. Dikeadaan yang tenang hati ini seolah menasihati
pikiran dan tubuh ini untuk lebih baik dan menjadikan kekurangan –
kekurangan tadi menjadi tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan
dengan rapi. Sebisa mungkin ku tak akan menggunakan tangan ini untuk
menegornya, mulut ini untuk mengancamnya, ku ingin hati ini yang membuka
hati mereka untuk benar – benar sadar akan pentingnya pendidikan.
Pendidikan akademik maupun moral.
Ku yakini bukan seberapa pandai
kita dilahirkan di dunia ini, tapi seberapa besar niat kita menjadi
terdepan. Membuat keterbataan menjadi sebuah pemacu kekeadaan yang lebih
baik dengan tekat dan ketulusan hati. Bukan seberapa besar mulut
bicara di hadapan mereka, sekencang apa teriakan kepada mereka. Tapi
seberapa pandai hati ini mengolah raga, agar mereka tersentuh untuk
menuju kearah yang lebih baik. Ku senang mereka sambut kami dengan
senyuman, sapaan yang terkadang membuat bibirku tersenyum kecil.
“Selamat pagi bu” padahal jam menunjukan pukul 12.00 WIB. Sesaat mereka
tersadar bahwa salah mengucapkan salam, mereka pun ikut tersenyum. Aku
tau mereka malu, tapi tetap ingin menyapa. Ku rasakan itu sebagai bentuk
perhatian, rasa hormat dan sopan mereka kepada kami dan itu awal hati
mereka mulai tersentuh.
Sapaan langit Simpang Tiga, Landak,
Kalimantan Barat, belum genap dua bulan menyapaku ku disini. Kurasakan
rasa cintaku akan tanah Borneo telah menjalar. Awalnya terlihat jauh
dari kenyamanan, kutinggalkan segala fasilitas yang sebenarnya di tempat
tinggalku dapat dengan mudah ku dapatkan. Jauh dari mereka orang –
orang yang ku sayang dan menyayangiku. Sekarang aku merasakan kenyamanan
dari segala keterbatasan yang mampu aku lampaui dan itu bersama mereka
warga sekolah ini. Kenyamanan yang berbeda, kenyamanan yang membuat diri
ini lebih berguna bukan kenyamannan dengan segala fasilitas yang
tesedia. Kenyamaan hati, bersama mereka yang ingin menjadi orang yang
lebih baik walau terlihat kurang perhatian dari lingkungan hidup ini.
Kudapatkan juga orang – orang yang menyayangiku dengan tulus seperti
layaknya mereka yang menyayangiku sejak lama. Ini untuk Bangsa yang
lebih baik.
Ku benar – benar beryukur atas kesempatan yang telah
Tuhan berikan. Memang tak akan lama ku disini, tapi ku akan berusaha
menjadikan diri ini lebih baik, dan semoga mereka juga mendapatkan
manfaat dari adanya aku disini. Harus dan seharusnya jika tidak, itu
berarti aku gagal mewujudkan rasa cintaku untuk bangsa ini. Kami, guru
yang ada disini akan bersama – sama mewujudkannya. Mewujudkan tujuan
pendidikan bangsa ini dengan penuh rasa cinta, mengabdikan diri untuk
pendidikan bangsa ini.
Waktu yang baru sebentar ini sudah cukup
membuka mataku untuk melihat segala keterbatasan dan kekurangan yang
ada, bukan lah penghalang untuk menjadikan kita menjadi lebih baik.
Banyak alasan untuk kita munsyukuri hidup ini. Waktu yang benar – benar
baru sebentar ini telah memperlihatkan bagaimana gambaran pendidikan di
Indonesia. Pendidikan yang belum merata. Kurasa masih sangat
memprihatinkan, dan benar membutuhkan perhatian. Tak hanya pemerintah,
tapi juga kita warga Indonesia kita semua! Hal ini mengingtkan kita
bahwa Indonesia bukan hanya mereka yang ada di kota, mereka yang dapat
dengan mudah berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, mereka yang
dapat dengan mudah berkomunikasi jarak jauh dengan kerabat. Tapi juga
mereka yang ada di pelosok Negeri, mereka yang sangat bersyukur ketika
tiba – tiba ada sinyal di hand phone mereka, walau sebentar kemudian
hilang entah kemana, dan bahkan mereka yang untuk makan benar – benar
masih bergantung seutuhnya dengan Alam. Ya mereka, mereka adalah KITA,
warga Indonesia.
Ku jadi teringat pertama kali ku datang ke sekolah
ini, ada beberapa siswa yang menyapaku dan mengikutiku hingga masuk ke
ruang guru, dia sangat antusias ketika ada guru baru. Saat ku
diperkenalkan di depan kurang lebih 300 siswa ku lihat antusiasme
mereka. Tepuk tangan mereka kulihat sebagai tanda mereka membutuhkan
perhatian yang lebih dan itu membutku semakin memantapkan tekad ini,
untuk menjadi manfaat dengan segala keterbatasan yang ada. Nanti ketika
ku pergi dari sini, ku ingin mereka bertepuk tangan untuk diri mereka
sendiri, karena telah berhasil memupuk rasa cinta di hati. Menjadikan
dirinya lebih baik dari sebelumnya dan kelak menjadi tombak bangsa ini.
Harapan untuk menjadikan anak bangsa mendapat pendidikan yang layak tak
sekedar harapan, ada langkah untuk mewujudkannya. Harapa ini, harapa
seluruh anak bangsa. Harapan kita semua, dan kita semua yang akan
wujudkan harapan itu. Mari bergabung memupuk subur rasa cinta kita akan
pendidikan bangsa ini, tak hanya guru yang akan mencerdaskan bangsa ini.
Kita semua dapat melakukan itu, meluangkan waktu sebentar untuk masuk
ke kelas memberi motivasi. Walau hanya satu jam, jika menggunakan hati
akan berkesan untuk selamanya.
0 komentar:
Posting Komentar