a

Fanpage



Instagram



Kamis, 24 Desember 2015

Terimakasih SM-3T

SM3T Unnes
Oleh : Agista Rizky Dermara
25 Desember 2015



       Program SM-3T adalah bagian program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset , Teknologi dan Pendidikan Tinggi kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. SM-3T yang dapat dijelaskan dengan kalimat Sarjana Mendidik untuk daerahTerdepan, Terluar, dan Tertinggal. Dimana itu daerah 3T ? daerah yang jauh dari jalan raya aspal, jauh dari kota, jauh dari swalayan, jauh dari tempat hiburan, cukup menantang bukan ?baiklah akan ku kisahkan perjalananku mengapa tertarik mengikuti dan menjalani program SM-3T. Sejak mendengar program SM-3T tahun 2011, aku penasaran dengan dua pertanyaan “program apa itu” dan “bagaimana prospek kedepannya” dengan secepatnya ku cari info melalui internet mengikuti perkembangan baik dari berita cetak, online dan grup SM-3T yang terdapat di facebook. Ku pikir dengan mantap pada tahun itu apakah nanti ketika lulus mengikuti program SM-3T, talent scout guru SMK, atau menjadi guru honorer SMK di kota. Sembari beraktivitas kuliah waktu itu kuputuskan bulat untuk mengikuti program SM-3T, kenapa ? program ini memang dikhususkan untuk para guru muda lulusan kependidikan sehingga untuk yang lulusan non kependidikan tidak diperkenankan untuk mengikutinya, program ini diselenggarakan oleh pemerintah yang semua akomodasi dibiayai oleh negara, program ini merupakan tantangan untuk guru muda yang diharapkan dapat menginspirasi para murid/generasi muda di daerah 3T dan bentuk pengabdian diri untuk negeri yang tercinta ini bahwa pendidikan yang baik harus dirasakan oleh semua warga indonesia dari sabang sampai merauke yang di kota maupun desa pedalaman. Cukup tiga alasan itu yang menyertai harap dan doa pada waktu itu agar bisa mengikuti SM-3T.

       Setelah penerimaan ijazah waktu itu, banyak sekali tawaran lowongan pekerjaan dari perusahaan, guru SMK, talent scouting guru SMK, dan SM-3T. Sekitar satu dua minggu dari wisuda tawaran pertama dari perusahaan besar security system pembuat hologram uang, atm dan sebagainya di kudus yang mengirim pesan bahwa dipersilahakan untuk membawa surat lamaran kerja dan datang langsung ke perusahaan menemui HRD, aku pikir ini bohongan karena aku tidak melamar kerja ke perusahaan, ku telusuri ternyata benar bahwa mereka mencari calon karyawan ber-IPK di atas rata-rata melalui buku alumni, akhirnya ku balas pesan itu dengan alasan mengikuti program SM-3T, tawaran lowongan kerja selanjutnya yakni peluang menjadi salah satu guru di tiga tempat SMK di susul peluang menjadi guru SM-3T dan guru talent scout SMK yang waktunya bersamaan. Dengan bacaan bismillah dari banyaknya peluang itu kuputuskan untuk mengikuti program MBMI SM-3T sesuai apa yang dahulu diharapkan.

       Proses menjadi guru SM-3T membutuhkan waktu yang panjang sekitar bulan maret 2015 sampai bulan agustus 2015 dimulai dari registrasi online untuk syarat adminstrasi yang harus lengkap dan sesuai kriteria, pada tahap ini perasaanku yang was-was khawatir lolos tidaknya diriku yang mana jumlah pendaftar se- Indonesia yang begitu banyak. Kemudian tes online yang harus dapat menjawab soal jurusan, tes potensi akademik, dan psikotes pada tahap ini aku pikir setidaknya bisa menjawab setengah dari semua soal dapat berhasil lolos ke tahap selanjutnya yang pasti dengan perasaan khawatir tidak lolosnya itu. Tes tahapan selanjutnya adalah wawancara diskusi yang diikuti oleh peserta sebanyak enam orang dihadapkan suatu pertanyaan dan permasalahan yang diberikan oleh dosen, dengan jawaban yah..sebisanya dan tertuju pada topik ku sampaikan, dan dosen pada tahap ini memberikan wejangan dan pesan ketika kelak menjadi guru SM-3T. Dan Alhamdulillah semua tahapan tes dasar dapat ditempuh, lolos dan hore... sehingga aku dapat mengikuti tes lanjutan yakni mengikuti prakondisi yang di tempatkan di daerah pegunungan lereng gunung Ungaran, Suasana dingin menyelimuti waktu malam dan dingin panas terik waktu siang. Prakondisi meliputi pelatihan kurikulum, survival, kerja sama, dan sebagainya, disinilah tahap terakhir kesiapan mental para calon guru di uji selama dua minggu yang berakhir tanggal 17 Agustus 2015.

       Alhamdulillah tanggal 25 Agustus 2015 mimpi itu tercapai yakni menjadi guru SM-3T angkatan V. Lega rasanya ketika dahulu mahasiswa bermimpi untuk menjadi guru SM-3T yang pada akhirnya tercapai, babak baru dari awal pengabdian untuk negeri. Berkumpul sekitar pukul 06.00 di bandara Achmad Yani, Semarang sebanyak 50 orang guru penempatan kabupaten Landak Kalimantan Barat bersiap mengawali pengabdiannya, bersamaan pula waktu itu guru SM-3T kabupaten Sambas juga berangkat pada hari yang sama. Dengan tujuan Jakarta, kami menempuhnya dengan menaiki pesawat Lion Air dengan waktu tempuh sekitar 1 jam lebih, setiba di Jakarta pukul 11.00, transit sebentar kemudian pukul 13.00 dilanjut penerbangan menuju Pontianak, Kalbar tepatnya bandara Supadio. Setiba di bandara Supadio pukul 14.30 lebih langsung menaiki bus kecil untuk menuju di ibu kota kabupaten yakni kecamatan Ngabang yang menempuh waktu lebih dari enam jam perjalanan. Sesampai di Ngabang, hotel Hanura pukul 23.30 malam, meletihkan itulah yang kami rasakan akan tetapi rasa semangat yang terjaga menghapus rasa letih itu dilanjut makan bersama tengah malam, rapat kecil bertemu dengan angkatan IV berkenalan, membahas agenda besok hari dan tukar informasi. Pukul 01.00 dini hari tanggal 26 Agustus 2015 rapat usai dan dilanjut istirahat. Keesokan harinya ada undangan di Dinas Pendidikan untuk acara penerimaan guru SM-3T V dan pelepasan guru SM-3T IV serta pembagian tugas penempatan bagi guru SM-3T V dan inilah yang aku tunggu, berharap tempat yang nyaman biarpun pedalamanpun tak apa. Ketika diumumkan namaku beserta tempat penugasan, “Agista Rizky Dermara” penempatan ‘SMP N 10 SATU ATAP NGABANG” horee....hahah, dapat kecamatan nih dengan jalan raya besar dan juga kecamatan alias kota dan yang ditugaskan disitu ada satu teman seangkatan setidaknya ada teman bincang. Dengan muka polos tidak tahu kondisi geografis di sini, tidak tahunya ku tanya angkatan V tidak ada yang penempatan disitu dan pula katanya tempatnya jauh, Ya Allah aku pikir letaknya di pinggir jalan raya karena memang masih ibu kota kabupaten yakni Kecamatan Ngabang akan tetapi katanya angkatan V kondisi jalan menuju penempatanyan jauuuhhhh, jalannya jelek tanah merak, tidak ada sinyal seluler dan listrik.....Ya Allah lindungilah kami dalam perjalanan...aamiin
bersambung......

       Masih pada tanggal 26 Agustus, kami berdua yang mendapat tugas penempatan di SMP N 10 SATU ATAP NGABANG Desa Amang menunggu jemputan kepala sekolah dan waktu itu juga kami bertemu dengan Kepsek Pak Kristianus Wageda berumur masih muda sekitar 35 tahun, karena tempat tujuan jauh dari dinas, tidak bisa sore itu setelah rapat berangkat ke tempat sasaran maka kami diinapkan di hotel yang sama untuk keesokan harinya tanggal 27 Agustus barulah berangkat. Dengan menggunakan bus umum kami menuju simpang sidas, sesampai disana menunggu jemputan sepeda motor dari amang, dan beruntungnya kami bukan motor yang didapat melainkan truk pengangkut kelapa sawit yang supirnya juga akan pulang ke rumahnya, desa yang sama dengan penempatan kami. Perjalanan melewati perkebunan sawit dan pohon karet yang begitu luas dan tertata sembari tengok kanan dan tengok kiri, sepanjang tanah merah yang kulalui yang membuatku kaget adalah banyaknya babi piaraan berkeliaran di jalan. Pertama kali datang kami bertempat di rumah sekdes Pak Parjono, aku pikir orang jawa karena mendengar namanya ternyata orang dayak asli, hehehe. Berbincang hangat pada pertemuan pertama dengan salam perkenalan dan diberitahu kondisi tempat tinggal, sekolah dan kondisi sosial masyarakat sini. Dan aku mendapat satu teman guru SM-3T dari Unsyiah Aceh yang terlebih dahulu datang, sehingga jumlah guru yang ditugaskan sebanyak tiga orang, dua dari UNNES dan satu dari Unsyiah.

       Sudah tiga bulan lebih aku merantau di tanah kalimantan sebagai guru di pedalaman, rasa suka dan duka, tertawa dan gembira begitupula sedih semua kurasakan itulah arti kehidupan. Ketika aku berada didepan kelas mengajarkan ilmu, moral dan etika mereka selalu memperhatikan, seakan murid-murid itu seperti kertas putih dan segelas air yang kosong yang perlu dituliskan dan diisi ilmu-ilmu yang bermanfaat. Pada suatu waktu aku suruh mereka untuk memperkenalkan identitas diri dan cita-cita yang ingin dicapai dan alhamdulillah banyak dari mereka ingin bercita-cita menjadi guru. Sekolah ini hanya memiliki tiga kelas yaitu satu ruang masing-masing kelas tujuh, delapan dan sembilan belum ada lulusan dari SMP ini karena baru berjalan tiga tahun kondisi sarana dan prasaran dapat dibilang cukup, kondisi psikologis murid kelas delapan dan sembilan wajar pada usia mereka saat ini, beda dengan kelas tujuh, ada segilintir siswa kelas tujuh yang tidak bisa diatur kadang membuatku marah, minggu kedua dan ketiga aku masuk mereka berdendang dengan pukul-pukul meja sampai aku bilang “jika temanmu itu masih saja berisik, berbuat onar dan mengganggu kawannya” alangkah lebih baiknya belajar sendiri dan aku keluar, waktu itu aku keluar dari kelas menuju kantor akan tetapi beberapa anak mnghampiriku sambil memegang tanganku dan berkata “janganlah marahlah Pak, jangan pergi, ayo bapak masuk ke kelas kami dan belajar, kami janji tidak akan berisik” , dalam hatiku inilah yang kutunggu-tunggu bukti keseriusan mereka dalam belajar.
Berulang kali selalu kuingatkan “jangan berdendang dengan memukul meja” dan akhirnya pun minggu kelima dan seterusnya tidak ada lagi yang berdendang. Semua anak terinspirasi oleh ceritaku, ada anak siswa kelas tujuh berkata “aku ingin menjadi guru SM-3T seperti bapak, nanti kalau sudah besar merantau ke jawa aku cari rumah bapak” memang anak ini rajin dan pintar diantara teman-temannya. Setelah beradaptasi lingkungan kelas selama dua bulan semua dapat dikendalikan , dan mereka nakal dalam batas yang wajar yang sekarang mudah untuk diatur.

       Disela-sela waktu mereka selalu menanyakan “ Pak, kapan kita jalan, camping menuju bukit ?”, “ayo pergi ketempat ini dan itu” , “Pak, aku bawakan buah ini, sayur ini, mau ?. Pada musim panen beras, sayur dan buah, masyarakat memberi kami dengan cuma-cuma, beras ada, buah rambutan ada, durian ada, buah pluntan ada, sayur kangkung ada, sayur bayam ada, kecipir ada, daun timun ada, timunnya pasti ada, buah yang aneh-anehpun ada sampai aku tidak tahu namanya dan yang spesial banyaknya adalah singkong, yang mana makanan favoritku terutama kalau digoreng, hehehe.
Setiap jumat kami keluar dari desa untuk shalat jum’at waktu tempuh satu jam ke masjid terdekat yaitu disimpang sidas, karena masyarakat di desa mayoritas kristen protestan dan hanya dua KK saja yang muslim. Suatu waktu setelah shalat jum’at di ngabang kami memutuskan pulang sore meskipun hujan, perjalanan dari kecamatan ke simpang dangku dengan kondisi jalan yang baik, seterusnya simpang dangku ke arah desa dengan kondisi jalan yang buruk karena waktu itu hujan, perjalanan awal biasa saja setelah hujan reda sesampai ditanjakan amang, kami terpaku melihat jalannya apakah bisa kami melewatinya, gas motor ditarik sekuat tenaga, motor tak bisa naik harus didorong keatas sedikit demi sedikit, ban motor penuh dengan gumpalan tanah merah yang menyebabkan sulitnya ban motor berputar, deru mesin motor semakin keras dan tetesan keringat membasahi pakaian , bersusah payahlah kami menumpuh jalan tanjakan itu sehingga butuh 30 menit untuk naik ke atas, sesampai mes sekolah pukul 20.30, perjalanan dengan kondisi hujan itu membuatku tidak ingin mengulanginya lagi alangkah baiknya pergi keesokan harinya.
 
       Hal yang membuatku senyum di mulut dan di hati adalah ketika mereka menanyakan tentang dirinya “Pak, aku pintar kan ?” dan mereka selalu berlomba-lomba melakukan kebaikan. Banyak cerita yang ingin kusampaikan seperti membersihkan kotoran anjing di dalam kelas, pembuatan mes dan jemuran yang dibantu siswa dan masyarakat, mengendalikan siswa yang sangat nakal, mencari sinyal di bukit hingga membuat penguat sinyal, menyusuri jalan dan air terjun, tangan bengkak terkena serangga penyengat tapi apalah daya kekuranganku sebagai manusia yang lelah untuk menulis, semoga tulisanku ini menjadi inspirasi bagi mereka yang membacanya

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: