Oleh : Linda Sulistyani
23 Desember 2015
Dusun Singaraja desa Tenguwe merupakan tempatku mengabdi, tugasku
terhitung mulai dari 26 Agustus 2015 s/d 27 Agustus2016. Terhitung lama
bukan? Perasaan kacau yang menyelimuti hati ketika pertama kali thau
bagaimana kami harus menjalani setahun kedepan di tanah orang. Bagaimana
bisa kami bersosialisasi dengan masyarakat, menyesuaikan diri dengan
lingkungan, dan bagaimana dengan bahasa. Banyak pertanyaan yang
terbesit.
Tak butuh wakyu lama terjawab sudah apa
yang menjadi pertanyaanku. Lingkungan yang nyaman, masyarakat yang
ramah, bahasa yang tidak sulit untuk kami pelajari serta adat istiadat
yang begitu kental. Tak jauh berbeda dengan daerah di mana kami berasal.
Begitulah kondisi yang memang mengharuskan kami untuk merasa nyaman. Sekolah yang berdekatan dengan rumah dinas menambah kenyamanan. Hanya butuh sedikit tenaga untuk menaiki bukit. Sekolah, kami temui. Tentang siswa, mereka antusias dengan kedatangan kami. Guru baru dari Jawa mereka bilang. Sambutan hangat untuk pertemuan kami yang pertama. Begitupula dengan kedekatan kami untuk setiap proses pembelajaran yang terjadi. Kami belajar dan bermai.
Begitulah kondisi yang memang mengharuskan kami untuk merasa nyaman. Sekolah yang berdekatan dengan rumah dinas menambah kenyamanan. Hanya butuh sedikit tenaga untuk menaiki bukit. Sekolah, kami temui. Tentang siswa, mereka antusias dengan kedatangan kami. Guru baru dari Jawa mereka bilang. Sambutan hangat untuk pertemuan kami yang pertama. Begitupula dengan kedekatan kami untuk setiap proses pembelajaran yang terjadi. Kami belajar dan bermai.
Menumbuhkan motivasi
belajar dalam diri mereka bukan hal yang mudah, tapi dengan usaha yang
tidak mungkin pun menjadi mungkin. Menemani anak-anak belajar adalah
kebanggan tersendiri bagiku. Menyatu dengan
masyarakatpun, tak butuh waktu lama. Kami
memperkenalkan diri pertama kali dalam pengajian rutin ibu-ibu majelis.
Keramahan mereka, sambutan mereka membuatku ingin menyatu dengan mereka.
Pengajian mendekatkan silaaturrahim kami, memberi kami kesempatan
belajar mengaji bersama. Tidak ada perbedaan usia, derajat, asal, dan
sebagainya. Seiring berjalanya waktu kami mengenal kebudayaan adat
istiadat dan berbagai hal yang belum kami ketahui sebelumnya.
Proses
adat dalam setiap moment tertentu sering kami jumpai. Kedekatan antar
masyarakaat yang masih kental memberi kesan kekeluargaan yang sangat
hangat. Bukan untuk merubah apa yang ada dalam diri kami. Baik adat
istiadat, kebudayaan, kebiasaan, bahasa, dan berbagai hal yang ada dalam
diri kami. Bukan untuk merubah tapi untuk memperbaiki. Salam hangat
dari Tenguwe.

0 komentar:
Posting Komentar