Oleh: Dian Wijayanti
26 Juni 2016
Kami para landakers. Bakti
kami untuk negeri. Cinta kami
terhadap ibu pertiwi.
Ketika itu, wajah2 ketakutan tak percaya syock sangat
terlihat di wajah kami saat pertama menginjakkan kaki di tanah parenean ini.
Ketakutan akan lingkungan baru dan belum bersahabat dengan kami yang selalu
bergelimang dengan teknologi (anak
koteeee...). Sampai hari penerjunan datang akhirnya kami harus berpisah karena
tempat tugas kami.
50 landakers berpisah di tempat kami mengabdi di tanah Landak ini. Banyak di antara
kami di tempatkan di daerah tanpa listrik dan sinyal jauh dari keramaian
apalagi mall Matahari(duh kudune d sensor kui mau). Masing-masing dari kami
pernah merasakan tangis karena belum terbiasanya dengan lingkungan tempat kami
mengabdi(kebanyakan yg paling ujung penempatannya yg paling sering nangis he).
Kami berjuang mencerdaskan anak bangsa di ujung pelosok negeri dengan
keterbatasan yang ada di tempat tugas kami ini. Tapi Kami
harus ikhlas berbagi tanpa perduli kekurangan yang menghimpit kami.
Beberapa bulan
kami tak berjumpa dengan kawan yang terpisah penempatan tapi kami masih
berkesempatan berkumpul kembali secara utuh 50 orang para landakers. Ketika keluarga
kecil ini berkumpul kembali. Wajah-wajah mereka begitu berubah (sumpah kayak super hero kabeh). Garis
wajah yg dulu halus sekarang menjadi garis wajah yang kuat. Dengan cerita
mereka yang berbeda ada yang sedih ada yang senang. Keluhan tak lagi menjadi
hambatan, malah menjadi cambukan mereka semakin semangat untuk berjuang
bertahan, pantang pulang sebelum tumbang(motone kancaq sie). Dan kami bangga
menjadi salah satu media perantara antara ilmu dan anak didik kami. Sedikit
memberi apa yg tidak mereka miliki untuk mencerdaskan anak
bangsa...Iya....wajah-wajah ini yang akan tetap berjuang di belahan ujung
NKRI..


0 komentar:
Posting Komentar