Oleh : Roni Wanfuadi
03 Maret 2016
Senin pagi (29/02/2016) saya baru saja tiba di Sekolah setelah sehari sebelumnya ada rapat persiapan EXPO Mei nanti.
Setelah selesai upacara bendera, saya pun masuk ke kelas IX. Kelas paling ruwet. Butuh kesabaran ekstra. Ketika sedang badmood, bisa jadi emosi kita akan terpancing saat melihat kelakuan sebagian siswa yang bandel.
Maka, sebelum masuk kelas saya mencoba melenturkan pipi, senyum sendiri, serta mensimetriskannya antara bagian kiri dan kanan. Setelah dirasa cukup, cayo.
Hasilnya lumayan, meski ada yang ramai namun itu hanya segelintir dan masih bisa terkendali. Di sela - sela pelajaran saya mencoba berbicara menggunakan bahasa ibu mereka. 'Didian nana ada tempat mancing ke?'
Sontak mereka tertawa mendengar saya bicara. Bukan apa - apa, logat yang berbedalah yang membuatnya lucu. Sejak awal disini, orang pasti tertawa jika saya berbicara menggunakan bahasa dayak. Yaa, sederhananya kita analogikan begini, ada bule dari Italy datang ke Semarang dan bicara menggunakan bahasa jawa ketika berinteraksi dengan warga. 😅
Suku dayak memiliki banyak jenis bahasa, di Kabupaten Landak ini rata - rata merupakan dayak Ahe dimana jenis bahasanya tidak berbeda jauh dengan bahasa Indonesia. Kompleksitasnya pun tidak seperti bahasa jawa. Di luar itu, bahasa mereka sangat sulit untuk dimengerti, bahkan sesama suku dayak pun kadang mereka tidak paham apa yang sedang diucapkan.
Nah, kembali ke tema. Beberapa saat setelah keluar dari kelas IX, Dani mengajak saya untuk mancing di daerah sekitar tempat tinggalnya.
Sepulang sekolah, saya bersama Peri, Aay, Jejep bersiap pergi ke rumah Dani. Selagi saya siap - siap, mereka mencari umpan berupa anak semut merah (baca ngangkrang 😅).
'Pak Guru, jahe kita incang tas besar dan tikar (maksudnya matras) koa?' Tanya jejep. 'Sudahlah, yuk kita berangkat', sahutku sekenanya.
Tujuan pertama kami adalah rumah Dani, butuh waktu sekitar 40 menit untuk tiba di rumahnya. Tentunya dengan bonus jalanan hutan Kalimantan, yaa kalian tau lah. Tanah becek, berliku, naik turun teramat lumrah disini. Tapi ada 1 hal yang kali ini membuat saya benar - benar melongo.
Motor Dani yang berwarna biru kombinasi hitam itu, blooong tanpa rem depan maupun belakang. Woalah gendheng tenan i 😱😱😱
Saya pun tidak habis pikir dengan medan seperti itu, dia hanya mengandalkan persneling untuk menstabilkan motornya.
Saya pun tidak habis pikir dengan medan seperti itu, dia hanya mengandalkan persneling untuk menstabilkan motornya.
Ah sudahlah, mudah - mudahan kamu baik - baik saja nak. Setelah singgah di rumah Dani, kami pun berangkat menuju tempat pemancingan. Melewati hutan sawit dengan cabang jalan yang begitu banyak, seolah - olah membuat saya terjebak di dalam labirin.
Dan untuk pertama kalinya saya melihat Pabrik Kelapa Sawit secara langsung. Sebuah bangunan di dalam hutan belantara yang berdiri dengan gagahnya. Sejenak saya berfikir, jadi karena ulah mereka ini? Yang tiap tahun menggerogoti jutaan hektar hutan Kalimantan? Ah, kapan - kapan saja kutulis tentang mereka.
Setelah 15 menit perjalanan mengekor Dani, saya akhirnya tiba di lokasi pemancingan. Dan....
Yahh, memang tidak semegah bibir pantai Ende ataupun Morotai. Namun jika membayangkan Kabupaten Landak yang sama sekali tidak memiliki pantai, luar biasa lah danau kecil ini. 😅
Ya kan di dalam hutan, yang biasanya kami lihat cuma pohon dan lumpur, trus ini ada macam beginian kan ya sesuatu. #maafover
Yahh, memang tidak semegah bibir pantai Ende ataupun Morotai. Namun jika membayangkan Kabupaten Landak yang sama sekali tidak memiliki pantai, luar biasa lah danau kecil ini. 😅
Ya kan di dalam hutan, yang biasanya kami lihat cuma pohon dan lumpur, trus ini ada macam beginian kan ya sesuatu. #maafover
Waktu menunjukkan jam 15.00 lewat ketika kami tiba. Seperti yang saya duga di awal perjalanan, matras ini akan sangat berguna sebagai alas sholat.
Hanya saja, spot yang ini tidak begitu banyak ikan. Jika ingin yang lebih, kami harus melanjutkan perjalanan ke hulu sungai. Karena waktu sudah beranjak gelap, hal tersebut harus ditunda.
Rencananya, saya akan mencari waktu luang di akhir pekan. Jadi dalam waktu dekat ini saya bisa lebih leluasa menjelajah bersama Dani dan yang lain.
Salam Mbmi







0 komentar:
Posting Komentar