Oleh : Dedi Adang Nugroho
3 januari 2016
Landak, 25 Agustus 2015. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di
tanah Borneo, dan tak pernah terbayang sebelumnya untuk sampai pulau
ini. Satu hari setelahnya, tiba lah untuk kami di terjunkan ke pelosok
pelosok kabupaten landak. Dag dig dug ser rasanya menunggu nama kita di
sebutkan untuk daerah penempatanya. Nama kedua sesudah Indrawan Dwi Candra
adalah nama saya yang disebutkan, dan ternyata saya harus mengajar SD
di sini walaupun jurusan saya adalah Sosiologi dan Antropologi.Saya dan
teman saya indrawan mendapat satu penempatan yaitu di dusun Endiyak
Dessa Dange Aji kecamatan Air besar.
Sampai di penempatan dan
melihat keadaan sekolah, hanya ada 3 kelas yang tersedia dan digunakan
untuk 70 siswa siswinya,sarana dan prasarana masih kurang memadai. Tiang
bendera pun tidak ada dI depan sekolah, dan ternyata di SDN 31 Endiyak
tidak pernah melaksanakan upacara dari awal berdirinya sekolah.
Mendengar kata upacara bagi kita sudah tidak terlalu asing, bahkan
mendengar kata itu pun ekspektasi kita sudah “ Buruk “. Panas, itu yang
muncul pertama kali dalam benak kita.
Upacara yang sejatinya untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dan salah satu bentuk cinta anah air sudah tidak khidmat lagi dalam proses pelaksanaannya.
Upacara yang sejatinya untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dan salah satu bentuk cinta anah air sudah tidak khidmat lagi dalam proses pelaksanaannya.
SD merupakan tempat pertama kali untuk memberikan pemahaman dan
menanamkan nilai wawasan kebangsaan kepada pelajar melalui upacara
bendera setiap hari senin. Namun, kenyataannya masih banyak sekolah yang
kurang peduli terhadap hal ini, sehingga mereka tidak melaksanakannya.
Kondisi ini bisa berpengaruh terhadap karakter anak didik yang
belakangan ini sudah mulai terlihat seperti menurunnya rasa hormat
terhadap guru, berani melawan orang tua dan beberapa skap maupun tingkah
laku tidak terpuji lainnya, jika ini terus di biarkan maka generasi
muda ke depan akan krisis nilai-nilai kesopanan dan budaya saling
menghormati. Jangan salahkan mereka nantinya menjadi generasi yang
kurang mencintai tanah air.
Pertama kali kita ajak anak-anak untuk
melaksanakan upacara, antusias anak-anak sangat tinggi. Kami bersama
sama membuat tiang bendera sederhana, hanya terbuat dari sebatang kayu
yang kita tancapkan ke dalam tanah. Hari senin pun tiba, upacara yang
pertama kali di laksanakan di SDN 31 Endiyak semoga akan selalu di
kenang. Lagu Indonesia raya yang dinyanyikan anak-anak pada saat
pengibaran bendera membuat hati bergetar dan membuat mata ini
berkaca-kaca. Memang benar ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan di
daerah 3T akan terasa berbeda, lebih memaknai isi dari lagu tersebut.
Upacara yang biasanya mereka saksikan dari layar kaca, sekarang mereka
bisa merasakan jalannya upacara.
Salam MBMI.
Salam MBMI.

0 komentar:
Posting Komentar