a

Fanpage



Instagram



Selasa, 19 Januari 2016

Anak-anakku Istimewa

SM3T Unnes
Oleh : Hesty Nurtika Riyandani
12 Januari 2016

        Ingin kuceritakan lagi sepenggal kisah yang menjadikan saya lebih dewasa.. Sebelum bercerita, akan kuingatkan lagi mengenai sekolah tempatku mengabdi, tempatku berjuang selama satu tahun ini, dan tempat generasi emas yang akan menjadi penerus bangsa ini. SDN 13 Morobehe II atau sering di sebut SD Ompeng,, sudah tidak asing lagi dengan SD tersebut karena di awal sudah diceritakan mengenai kondisi sekolah terutama kondisi jalan untuk menuju sekolah tersebut. Tapi kali ini tidak akan kuceritakan mengenai kondisi jalan yang membuat saya ingin pulang jawa saja.. kalimat tersebut sering kali muncul di benak saya ketika rasa lelah itu hadir, ketika rasa jenuh itu menghampiri, dan ketika rasa bosan mulai menyelinap..

Selamat datang semester 2..
        Liburan telah usai, saatnya melanjutkan tugasku sebagai guru sekaligus sebagai orang tua yang mendidik anak-anaknya.. kenapa gelar sebagai orang tua mereka sekarang bisa menjadi gelar baruku?? Ya, semua karena anak-anakku yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Sebenarnya mereka tidak nakal, hanya saja cara mereka bermain dan bercanda melewati batas. Saat inilah peranku sebagai orang tua harus mengajari mereka sopan santun dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari terutama sikap terhadap orang yang lebih tua termasuk guru (saat inilah ilmuku yang sesungguhnya harus diterapkan, ya sebagai guru PPKn saya harus bisa mengajarkan tata krama, sopan santun, dan moral kepada mereka). Masih ingat sekali ketika mereka sering meludah disembarang tempat, tidak menghargai guru, dan sering kali kata-kata yang tidak sopan mereka ucapkan kepada orang yang lebih tua. Tidak ada yang susah jika kita mau berusaha, berusaha untuk membentuk pribadi yang baik. Perubahan sedikit demi sedikit mulai terlihat, tetapi harus diingatkan supaya menjadi kebiasaan yang akan dilakukan secara terus menerus. Paling tidak pada saat masa tugas saya sudah selesai, anak-anak punya bekal sopan santun yang akan mereka junjung tinggi. Ketika sebuah perilaku sudah menjadi kebiasaan seseorang maka harapannya orang lain akan berperilaku seperti kebiasaan tersebut.

        Jujur sampai saat ini saya masih bingung bagaimana cara mengajar yang benar supaya mereka paham dengan materi pelajaran. Sudah berbagai cara saya terapkan, dari yang serius di kelas, belajar di alam, sampai belajar sambil bermainpun sudah saya terapkan tetapi hasilnya tetap “NIHIL” ya, saya sering kecewa terhadap diri sendiri, saya merasa ilmu yang didapat selama kuliah belum cukup karena belum bisa membuat mereka paham dengan materi yang diajarkan setiap harinya. Mereka akan paham hanya dalam hitungan menit saja, setelah 5 menit ketika ditanyakan kembali mereka hanya diam, diam, dan diam.. jangankan mau melanjutkan materi selanjutnya, materi kemarin yang baru diajarkan saja mereka sudah tidak ingat sama sekali. Tanggung jawab sebagai guru Kelas V begitu sulit, bahkan ketika patner ngajar diajak bertukar kelas tidak mau karena Kelas V begitu istimewa. Ya mereka istimewa sekali, sampai saya begitu sulit meninggalkan kelas ketika KBM sedang berlangsung. Kembali kemateri yang susah mereka tangkap.. Rasa penasaran dan heran menjadikan saya ingin melihat bagaimana kondisi di kelas lain. Saat menanyakan ke guru kelas lain dan berkesempatan mengajar di kelas IV ketika gurunya berhalangan hadir mereka juga susah menangkap materi yang diajarkan. Sampai sekarang masih menjadi PR kenapa bisa seperti itu.. Apa karena dari kecil mereka tidak pernah diingatkan orang tua untuk belajar? Apa karena mereka tidak pernah mengulang materi yang pernah diajarkan? Apa karena keterbatasan penerangan setiap malam jadi mereka tidak mau belajar? Apa karena tidak adanya buku pelajaran dan kondisi catatan yang sulit dibaca jadi mereka malas belajar? Ah... entahlah, masih menjadi pertanyaan yang sulit di jawab. Tapi saya tidak akan menyerah, mereka harus tetap semangat belajar.

       Kali ini saya tidak akan memaksakan materi kepada mereka, karena percuma saja kalau saya mengejar materi dan mereka tidak paham sama sekali. Satu-satunya jalan yang bisa lakukan sekarang adalah memulai lagi semuanya dari dasar, ya saya mengajari mereka membaca terlebih dahulu, mengajari mereka menulis yang benar, mengajari mereka berhitung dari bilangan terkecil. Akan saya ajarkan sampai mereka benar-benar pandai, dan sedikit demi sedikit saya selipkan materi yang harus mereka terima. Sudah satu semester berlalu, dan rasa khawatir itu masih ada. Cepat sekali waktu berlalu, bahkan mungkin waktu satu tahun tidak cukup untuk membawa perubahan kepada mereka. Muridku... Motivasiku... dan Semangatku...

Tentang Kami

SM-3T V UNNES
Kab. Landak, Kalimantan Barat

SM-3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. SM3T adalah program pemerataan pendidikan pemerintah. Kami putra-putri Universitas Negeri Semarang mengabdikan diri untuk SM-3T Kelima di Kab. Landak, Kalimantan Barat.

0 komentar: